[FF] Statement

Tittle      : Statement

Cast       : ren (you) , yesung, other

Author  : rasya woryafa

Cp: @woorieeeee

No Plagiator No Bashing! Dont be silent reader saran dan kritik sangat dinantikan^^

~happy reading~

“berhenti meledekku, oppa” katamu. Yesung terus tertawa, tawa nya tidak bisa dikendalikannya setelah melihatmu terjatuh. Kamu memajukan bibirmu, kamu kesal. Kamu berjalan melawati yesung yang masih tertawa. Yesung mengejarmu. “kenapa kau mengikutiku?” sentakmu. “aku hanya memastikan agar kau tidak jatuh seperti tadi” . “oppa” kamu memukul kepala yesung. “yaak!! Kenapa kau memukulku?” tanya yesung. “kau sudah mentertawakanku” jawabmu ketus, kamu berjalan meninggalkan yesung.

*****

“kau masih marah kepadaku?” pesan yang dikirim yesung. Kamu mengabaikannya. Kamu sibuk membaca novel yang baru kamu beli. Ponselmu berbunyi, nama yesung tertera di layar ponselmu. Kamu terus mengabaikannya. Kamu masih melanjutkan aktivitasmu. “sampai kapan kau tidak mengangkat teleponku?” yesung sudah berdiri didepan pintu kamarmu. Kamu melemparnya sebuah boneka. Yesung menangkapnya. Yesung menghampirimu dan duduk disisi ranjang tidurmu. “dua puluh satu panggilanku tidak kau jawab” . “terus?” jawabmu singkat tanpa mengalihkan pandanganmu dari novel yang sedari tadi kamu baca. “kau masih marah?” . “menurutmu?” . “maafkan aku ren-ah, maafkan aku” yesung memohon kepadamu. Kamu menutup novel yang kamu baca. Kamu duduk dihadapan yesung. “aku lapar, kau harus mentraktirku makan” kamu menarik tangan yesung kasar.

*****

“ini pedas sekali” kamu meneguk air mineral. Kamu merampas air yang akan diminum yesung. “yaak!! Kau” . “apa?” tanyamu. Yesung menghela nafas. “apakah kau tidak takut gemuk? Sudah berapa banyak donkatu yang kau makan?” . “ini enak oppa” . “aku tahu, tapi kau sudah terlalu banyak makan daging babi, apakah kau mau bentukmu seperti babi?” . “babi itu lucu, mirip sekali dengan oppa” . “untung saja aku sedang proses meminta maaf kepadamu, kalau tidak mungkin kepala mu akan ku masukkan kedalam wajan itu”. kamu dan yesung tertawa.

****

“aah kenyang sekali~” katamu. “gomapta” ucapmu. Yesung mengangguk. “oppa” panggilmu. “hmm”. “beli eskrim yuuk” kamu menarik tangan yesung, tanpa persetujuannya. Kamu menarik yesung sampai dikedai sebuah taman yang menjual es krim. “kau pesan apa oppa” . yesung menggeleng. “big size rasa coklat” katamu kepada pelayan. “mwo?” mata yesung seakan-akan ingin keluar. “wae?” . “apakah kau yang akan makan”. Kamu mengangguk, pesananmu telah disediakan. “waah, ghamsa” kamu mengambil eskrim dengan mangkuk besar. Kamu menyikut yesung. “bayar” katamu. Yesung hanya bisa menghela nafas melihat kelakuanmu. Kamu duduk di kursi taman. Yesung berjalan kearahmu, dan duduk disampingmu. “aku bisa bangkrut jika terus mengajakmu jalan seperti ini” . “salahmu sendiri” . kamu terus melahap eskrim. “kau mau?” tanyamu. Yesung menggeleng. “aaaa” kamu menyuapi yesung. “aku tidak suka” tolak yesung. “kau harus mau” kamu memaksa yesung untuk membuka mulutnya. Tidak ada hasilnya. kamu meletakkan eskrim diantara kamu dan yesung. “wae?” tanya yesung. “kau jahat oppa”  kamu menutup wajahmu dengan kedua tanganmu. “baiklah aku akan memakannya, tapi berhentilah menangis” yesung memakan eskrim hingga habis. Kamu melihat mangkok eskrimnya telah kosong. Kamu tertawa. “kau tertipu oppa”. “yaak!! Kau” yesung ingin sekali mencekikmu. Kamu lari meninggalkan yesung. “aku tidak akan pernah menangis karenamu oppa”. Yesung terus mengejarmu. Kamu terus berlari. Silauan lampu menghampirimu. Kamu merasakan tubuhmu didorong dan terhempas kesisi jalan. Kamu menoleh ke jalan, mobil hitam terhenti dan seorang menggunakan jaket berwarna merah terbaring lemah di jalanan. “yesung oppa” teriakmu. Kamu menghampiri yesung yang terbaring lemah. “oppa, bangunlah oppa” katamu. Yesung tersenyum. “kau menangis?” tanya yesung. “aku berhasil membuatmu menangis” . tangismu pecah. “yaak!! Kau yang ada didalam mobil, bantu aku membawanya kerumah sakit” . seorang wanita keluar dari mobil dengan wajah pucat. “mianheo, mianheo” katanya. “bantu aku membawanya kerumah sakit” katamu terisak.

****

“oppa” kamu menangis. Kamu menunggu yesung yang masih mendapatkan pertolongan dokter. “maafkan aku” . “karena kau, yesung oppa menjadi seperti ini” teriakmu pada wanita yang menabrak tadi. Semua orang melihat kearahmu yang sedang berteriak, memaki orang yang tidak kamu kenal. “aku akan menanggung semuanya” . “aku tidak butuh uangmu!, kalau sesuatu yang terjadi pada yesung oppa, aku tidak akan segan-segan membunuhmu” katamu. Wanita itu menunduk menyesali perbuatannya. Dokter keluar menghampirimu. “dia tidak apa-apa, hanya benturan dikepalanya, dan ada sedikit retak di tangan kanannya”  jelas dokter. “apakah sudah diperbolehkan untuk melihatnya?” dokter mengangguk. Kamu masuk kedalam ruangan yesung, yesung tertidur dengan balutan perban dikepala dan tangan kanannya. “oppa, cepat bangun setelah kau bangun kita akan makan donkatu lagi” kata mu.

****

“oppa” panggilmu ketika membuka pintu, kamu terdiam melihat wanita yang menabrak yesung tadi malam. Dia sedang tertawa bersama yesung, entah apa yang sedang mereka bicarakan.  “untuk apa kau kesini” tanyamu ketus. “aku hanya ingin menjenguknya” jawab wanita itu lembut. “ren-ah sopanlah sedikit” kata yesung. Kamu senyum kepada wanita itu, senyum terpaksa. “taeri imnida” wanita itu mengulurkan tangannya, “ren” jawabmu singkat. “ren-ah sopanlah kepada taeri-shi” nada bicara yesung agak tinggi. Kamu terkejut dengan ucapan yesung tadi, dia membela taeri yang sudah membuatnya seperti ini, ucapmu dalam hati. “aku pulang” katamu. Yesung memanggilmu. “kenapa kau tidak mengejarku oppa” benakmu. Kamu terus berjalan, air mata mengalir dipipimu, kamu menekan tombol lift, dan menunggu. “ren-ah” teriak yesung. Yesung berjalan menghampirimu. Kamu tersenyum, ternyata yesung masih peduli kepadamu. Seketika senyummu hilang, setelah melihat taeri membantu memegang botol infus yesung. Lift terbuka, dan kamu masuk tanpa mempedulikan panggilan yesung. “kau jahat oppa”

***

Sudah seminggu kamu dan yesung tidak ada kontak denganmu. Kamu pulang kerumahmu setelah dari rutinitasmu. “aah, melelahkan” kamu melempar tas mu sembarang. Kamu mengaktifkan ponselmu setelah seminggu tidak diaktifkan. Puluhan pesan singkat dikirim yesung. Kamu tersenyum membacanya. Kamu berniat untuk menjenguk yesung yang masih dirawat dirumah sakit. Kamu mengambil tas, dan pergi.

“pasti kau suka” katamu. Kamu membuka pintu kamar inap yesung. Tidak ada siapa-siapa didalam ruangan itu. Kamu bertanya kepada seorang perawat. “ooh dia sedang di taman” . “ghamsa” kamu membungkukkan badan. Kamu berlari menuju taman rumah sakit. Kamu merasakan jantungmu berhenti berdetak, kamu berdiri dalam diam, ketika melihat taeri, wanita yang sangat kamu benci, dia selalu bersama yesung. Dan sekarang kamu melihat taeri mencium yesung. Kotak yang kamu pegang terjatuh. Kamu mendekap mulutmu dan bersembunyi dibalik pohon yang besar. Samar-samar kamu mendengar taeri mengucapkan “saranghae yesung oppa”. “maafkan aku, aku tidak bisa membalas perasaanmu saat ini, karena dihatiku hanya ada wanita yang sangat aku cintai” jelas yesung. Kamu menangis. “apakah kau tidak bisa mencoba untuk mencintaiku?” tanya taeri. Yesung menggeleng, “maafkan aku, aku sudah mempunyai wanita yang aku cintai”.yesung meninggalkan taeri.  Kamu menghentikan tangismu, dan menyembunyikan wajahmu dilututmu. Yesung sudah berdiri didepanmu. “sejak kapan kau disini” tanya mu. “seharusnya aku yang bertanya” kata yesung. “aku.. ah jangan mengalihkan pertanyaan” katamu. “kau menangis lagi?” goda yesung. Kamu berdiri dan memukul lengan yesung. “sakit” . “jinjja? Mianhae” katamu. “aah sakit sekali” . “maafkan aku” . “aku tidak akan memaafkanmu” . “oppa” rengekmu. “hmm, sebaiknya aku kembali keruanganmu yesung-shi” kata taeri. “pergilah” usirmu. “kau tidak pernah sopan ren-ah” . “aku tidak sopan jika aku membenci orang itu” . “kau cemburu?” tanya yesung. Dengan cepat kamu menggeleng. “jinjja?”. “untuk apa aku cemburu kepadamu” . “tadi taeri memberiku sebuah ciuman, sepertinya aku ingin lagi” . kamu menutup telingamu. “aku tidak dengar, aku tidak dengar… kau bicara apa….” ucapanmu berhenti ketika bibir yesung mendarat mulus dipipimu. “saranghae” kata yesung. “sejak kapan kau bisa mengucapkan kata itu?” tanya mu. “bisakah kau menjawabnya?” . “apakah kata aku mencintaimu  itu pertanyaan?” . “kau tidak pernah berubah, dasar pabbo” . “kenapa kau mengejekku?” . “berhentilah bertanya ren-ah, aku tidak butuh pertanyaanmu” . “kau butuh apa?” tanyamu lagi. “aku hanya butuh pernyataanmu” Yesung memelukmu. “aku menyukaimu sangat menyukaimu” . “maaf oppa, tapi aku tidak menyukaimu” . “wae?” tanya yesung. “apa karena tanganku tidak berfungsi dengan baik? Atau karena kepala besar, atau…” kamu mencium yesung lembut. “aku tidak menyukaimu tapi aku mencintaimu oppa, saranghae” katamu. Yesung memelukmu erat. “ayoo kita kembali keruanganmu” ajakmu. “bukankah disana ada taeri?” . “arra, aku hanya ingin memamerkannya bahwa kau sudah resmi menjadi kekasihku” . “apakah aku mau menjadi kekasih seorang wanita yang sifatnya melebihi anak usia lima tahun?” . “oppa” rengekmu, kamu memukul lengan yesung. “yaak!! Kau ingin mematahkan tangan ku, huh?” . kamu tertawa. “aku akan menyembuhkannya” kamu mencium yesung kilat. “saranghae oppa”.

 ~the end~

need your comment^^

[FF] Short Time

Tittle      : Short Time

Cast       : ren (you) , yesung, other

Author  : rasya woryafa

Cp: @woorieeeee

 

No Plagiator No Bashing! Dont be silent reader saran dan kritik sangat dinantikan^^

~happy reading~

Kamu berjalan melintasi keramaian kota metropolitan, kamu memasuki sebuah toko tempat dimana kamu berkerja saat ini, kamu berkerja sebagai pegawai kasir sebuah toko kaset. “ghamsahamnida” kamu memberi tas kertas kepada pembeli yang baru saja membeli sebuah album. “ini” kata seorang lelaki, menyerahkan sebuah album. Kamu menerimanya. “totalnya dua puluh dua ribu won” . lelaki itu menyerahkan lembaran uang. Kamu memberikannya uang kembali dan tas kertas yang berisi album yang dibelinya. Seperti itulah rutinitasmu setiap hari. Melayani pembeli dengan ramah. “ren-ah, ayoo kita makan siang” ajak yoore temanmu. “ne” jawabmu singkat. Kamu membalikkan tanda open menjadi close. Kamu mengambil tempat makan yang sudah kamu bawa dari rumah. “kau bawa  apa hari ini?” . “hanya membawa nasi, jorim, dan kimchi jeon” . “waah pasti enak” . “silahkan jika kau ingin mencicipinya” kamu menyerahkan kotak berisi jorim. “enak sekali, kau pandai memasak” puji yoore. “gomawo”. Kalian menikmati makan siang. “yaak!! Ren-ah, apakah kau tahu lelaki yang sering membeli album disini?” . “siapa? Banyak sekali yang membeli album disini” . “aku tidak tahu namanya siapa, tapi aku perhatikan sudah empat hari dia membeli album disini” . “mungkin hanya baju atau mirip mukanya” . “tidak mungkin, mataku masih normal, kau ini bagaimana! Kau selalu berdiri melayani pembeli tapi tidak diperhatikan satu persatu” cerocos yoore. “haruskan aku memperhatikan pembeli satu persatu?” . “tidak juga, tapi jika lelaki itu kau harus sering memperhatikannya, karena wajahnya yang tampan dan aku dengar dia seorang penyanyi cafee” . “jeongmal?” . “ne, kemarin malam aku melihatnya menyanyi di cafee ujung jalan ini, suaranya sangat indah” . “wajar saja dia sering membeli album disini, mungkin untuk dia latihan bernyanyi” katamu dengan mulut penuh makanan. “apakah wajar jika dia membeli album yang sama selama empat hari berturut?”. Kamu tersedak mendengar ucapan. “gwechana” katamu, kamu memukul sedikit dadamu.

*****

‘ren-ah mianhae. Hari ini aku tidak bisa masuk, eomma ku sedang sakit’ pesan singkat yang kamu terima dari yoore. Kamu menghela nafas, toko kaset saat ini lumayan ramai. Kamu cukup kewalahan melayani pembeli. Hingga sorepun masih ada saja pembeli yang berdatangan. Baru saja kamu akan membalikkan tanda open menjadi close. Seorang lelaki membuka pintu, dan masuk menuju rak-rak. “maaf, toko kami sudah tutup” katamu. “hanya sebentar” kata lelaki itu. Lelaki itu mengambil sebuah album berwarna putih, dan segera menuju meja kasir. “dua puluh dua ribu won” katanya. Alismu bertautan. Lelaki itu menyerahkan uang yang telah sebutnya tadi. Kamu menerima nya dan memasukkannya kedalam mesin kasir . “kau kusut sekali, apakah kau berkerja sendirian” tanya lelaki itu. “ne, temanku tidak masuk karena eommanya sedang sakit” kamu membereskan album-album yang berantakan. “aku pulang, ghamsahamnida” katanya. Kamu menatap punggungnya hinggal menghilang. Kamu mengambil ponsel di sakumu. ‘yaak!! Lee yoore,sepertinya aku tahu lelaki yang kita bicarakan kemarin, wajahnya tampan sepertinya aku jatuh cinta. Kkk~’ . Tak berapa lama ponselmu berdering menandakan sebuah pesan singkat. ‘jinjja?’ . ‘ne^^’

*****

Sudah seminggu lelaki yang selalu membeli album yang sama datang kembali. “yoore-ah tolong layani pelanggan itu, aku sedang menyusun album yang jatuh” pintamu. “ne” teriak yoore. Kamu sibuk menyusun album-album yang berantakan karena ulah para pembeli yang tidak bertanggung jawab. Yoore menghampirimu. Dia memberikanmu sebuah kertas. “apa ini?”. “bukalah” kata yoore.

‘annyeong ren-shi, bisakah kau menemuiku di taman nanti malam?’

Matamu membulat setelah membaca surat yang diberi yoore. “sepertinya dia juga menyukaimu” kata yoore. “jinjja?” . “hmm” kata yoore. “arraso” . “Temuilah dia jangan sampai terlambat” . kamu mengangguk.

*****

Langit sudah berubah menjadi jingga. Salju turun.  Kamu merapatkan jaket yang kamu kenakan agar tetap hangat. kamu kembali kerumah. Kamu membersihkan diri dan menyantap makan malam. Malam semakin dingin, jam yang tergantung di dinding kamarmu menunjukkan angka sembilan. Ketika kamu ingin memejamkan kedua matamu yang sudah lelah. Kamu mengingat surat yang diberikan yoore. Dengan sigap kamu mengambil jaketmu dan pergi.

*****

Kamu berlari menuju taman yang dijanjikan. Lelaki yang selalu membeli album. dia tidak ada ditaman yang dia janjikan. “mungkin dia telat” pikirmu. Kamu menunggunya, kamu memainkah game diponselmu sambil menunggunya. Sudah setengah jam kamu menunggunya, dia tidak menampakkan batang hidungnya. “apa dia mempermainkanku? Mana dia?” tanyamu pada diri sendiri. “ah sudahlah lebih baik aku pulang” . kamu meninggalkan taman itu, kamu berjalan pelan sambil menendang batu kerikil. Dipersimpangan jalan banyak sekali orang. Kamu berjalan melihat kerumunan orang. Seorang lelaki tergeletak tak berdaya di bahu jalan dengan kepala berlumuran darah, dan seorang ahjumma menangis. Kamu mendekap mulutmu, melihat lelaki itu tidak percaya, ya, lelaki itu adalah lelaki yang kamu tunggu ditaman. Kaki mu melemas tidak sanggup menompang tubuhmu. Dan gelap.

*****

Kamu terbangun.kamu memandang seluruh ruangan yang kamu tempati. Kamu berjalan menuju meja disudut kamar. Di sana ada beberapa bingkai foto yang tersusun rapi dan tumpukan album yang sama, kamu menangis. Kamu keluar dari kamar, banyak para pelayat berdatangan. Seorang ahjumma menghampirimu, ahjumma yang kamu lihat tadi malam. Dia menggenggam tanganmu dan mengajakmu masuk kedalam kamar tadi. “ini adalah kamar yesung, anakku. Kau ren bukan? Yang sering disebut-sebut yesung?” . kamu mengangguk. “apa yang terjadi ahjumma?” . “kemarin aku menyuruhnya untuk menemuimu dan mengungkapkan perasaannya” . kata ibu yesung “dan dia kecelakaan” tangis ibu yesung pecah, kamu memeluknya erat, dan kamu menangis. “maafkan aku, ini semua salahku” katamu. Ibu yesung menggeleng. “jangan menyalahkan dirimu” kata ibu yesung. Dia menyeka air mata yang mengalir dipipimu. Ibu yesung membuka sebuah laci, dan mengambil sebuah kaset. “lihatlah nanti” . kamu memeluk ibu yesung.

*****

Kamu kembali kerumahmu setelah acara penguburan yesung. Kamu memegang kaset yang diberi ibu yesung. Kamu memutar kaset yang diberikan ibu yesung. Kamu bisa melihat yesung dilayar laptopmu. “annyeong ren-shi, apa kabarmu? Ku harap kau baik-baik saja. Apakah kau bosan melihatku  yang sering membeli dvd di tokomu? Ku harap tidak. Aku akan menyanyikan sebuah lagu untukmu yang aku sudah persiapkan dari lusa kemarin, hmmm apakah kepala ku terlihat besar dilayarmu? Jika ada suaraku false ku mohon tutup telingamu, aku akan mulai bernyanyi” kata yesung memberikan salam hangat di pembukaan. Dentingan tuts-tuts piano berbunyi.

 

I’m stuck with writing songs

Just to forget

What they really were about

And these words are bringing me so deeply insane

That i don’t think i can take my way out

I couldn’t breathe through it

Like i need to and the word don’t mean a thing

So i’ll sing this song to you for the last time

And my heart is torn in two

Thinking of days spent without you

And there is nothing left to prove

“aah aku malu, suara ku tidak sebagus penyanyi aslinya, aku harap kau suka. terima kasih telah mendengarkannya. Bye ren-shi, senang mengenalmu.” layar laptopmu sudah berubah, tidak menampakkan wajah yesung yang ceria tadi. Kamu menangis sejadi-jadinya. “yesung-shi gomawo, aku juga senang mengenalmu walau hanya dengan waktu yang singkat”

need your comment, chingu^^

[FF] Goodbye

Tittle      : goodbye

Cast       : ren(you) . yesung

Author  : Rasya Woryafa (minWo)

Genre   : romance

Length  : oneshot

Cp           : @woorieeeee

 

No plagiator No bashing! Dont be silent reader

~happy reading~

“ren-ah, kau baik-baik saja?” tanya yesung. “ne, oppa” kamu membersihkan darah yang mengalir dari hidungmu. Yesung dia adalah kekasihmu sejak bangku SMA, dan sekarang kamu dan yesung sudah mempunyai kesibukan masing-masing, yesung telah menyelesaikan kuliahnya setahun yang lalu dan kini dia sudah menyandang status sebagai seorang dokter, kamu seorang mahasiswi.

“apa perlu kita ke dokter?” tawar yesung. Kamu menggeleng, “aku hanya kurang istirahat saja oppa, sekarang aku sedang sibuk mengerjakan tugas ku” katamu bohong, yesung menghela nafas. “baiklah aku akan membantu tugasmu” kata yesung semangat. “aniyo, aku kuliah urusan bisnis, apakah kau mengerti? Kau seorang dokter, mana mungkin kau mengerti” ejek mu. “yaak!! Kau berani meremehkanku, kepala ku besar dan  aku cukup pintar” yesung memukul kepalamu.

***

“mianhe oppa, hari ini aku sibuk, kau tidak perlu menjemputku” itu adalah pesan singkat yang kamu kirim ke yesung. “mianhe, jeongmal mianhe oppa, aku terpaksa berbohong kepadamu” kamu menyeka air matamu, bus yang kamu tunggu sudah datang dan kamu segera menaiki bus. Sepanjang jalan kamu sibuk dengan ponselmu, kamu memperhatikan sebuah album yang berisi fotomu dan yesung. “saranghae oppa” lirihmu.

“kanker mu sudah memasuki stadium dua ren-shi”. Kamu menunduk lemas. “apakah ini sudah kamu beritahu kepada orang tuamu?” . kamu menggeleng. “wae?” tanya dokter. “orang tua ku sibuk, mereka tidak pernah mengurusku lagi” air matamu menetes. “apakah tidak ada cara untuk menyembuhnya selain operasi?” tanyamu. “kau bisa melakukan kemoterapi” . “apakah tidak ada cara lain?” . dokter dihadapanmu menggeleng. “kanker yang berada di tubuhmu ganas, perkembangannya sangat cepat” . air matamu mengalir. “tolong pikirkan baik-baik” . kamu mengangguk “ghamsahamnida” kamu membungkukkan badanmu, dan meninggalkan ruangan.

Kamu menyusuri jalan, pandanganmu datar. Kamu masih memikirkan kanker yang berada dalam tubuhmu saat ini. “bagaimana jika aku  tidak bertemu dengan yesung oppa” pikirmu. Sebuah mobil berhenti. “yesung oppa” kamu cepat-cepat menghapus air matamu. Yesung keluar dari mobilnya. “kau dari mana saja? Tadi aku sudah mencarimu di kampusmu” . “apakah kau tidak membaca sms ku?” tanyamu, yesung mengambil ponselnya di saku celananya, yesung tertawa pelan. “kau dari mana?” tanya yesung tanpa mengalihkan pandangannya dari jalan. “aku.. aku dari rumah ketemanku” . “jinjja? Tadi itu kau dari arah rumah sakit, apakah rumah temanmu di dalam rumah sakit” selidik yesung. Kamu mengangguk,”ye, dia sedang dirawat” katamu bohong. “aku lapar kau ingin makan apa?” . “terserah kau saja oppa” . “hmm, baiklah”

“kau lahap sekali makannya oppa” . tiba-tiba yesung tersedak, kamu memberinya segelas air, dan dia meminumnya. “gomawo” kata yesung. “tidak usah terburu-buru” katamu. “ren-ah, aku mempunyai pasien baru” kata yesung. “nuguya?” . “entahlah, aku tidak tahu, tadi dokter shin menelponku, pasienku mengidap leukimia” jelas yesung. Kamu mencoba tersenyum, “apakah kau masih lapar, oppa” kamu memberikan makananmu kepada yesung. “aku sudah kenyang oppa” katamu

Malam ini kamu tidak bisa tidur, kamu masih memikirkannya. Darah segar kembali mengalir dari hidungmu, “hari ini sudah empat kali” kamu menghela nafas. Kamu mengirim sebuah pesan kepada yesung “jeongmal saranghae oppa” . berselang kemudian sebuah panggilan masuk. “dokter shin?” alis mu bertautan, hari sudah malam mengapa dokter shin menelponku? Ucapmu dalam hati. Kamu menyentuh flip berwarna hijau. “yeoboseyo,…., ye,….., mwo? Siapa?….., jong woon?” tubuh mu melemas, sebuah kabar bahwa dokter shin tidak dapat menjadi dokter yang mengobati penyakitmu, dan dia seorang dokter spesialis kanker yang akan menggantikan dokter shin bernama jong woon. “eotteohke?” kamu mengacak-acak rambutmu frustasi. “kenapa seperti ini?” kamu menatap wajahmu dicermin, darah segar dan air mata mengalir di wajahmu. Suara ponselmu berbunyi, kamu mencoba menggapai ponsel yang tergeletak diatas ranjang, kamu mencoba bangkit dan menggapainya. “yeoboseyo… ” tiba-tiba kepalamu pusing, tubuhmu melemas dan kamu terjatuh.

***

Cahaya matahari menyeruak masuk kedalam ruanganmu, sebuah tangan menyentuh pundak kepalamu. Yesung?. “kenapa kau tidak memberi tahuku?” pertanyaan yang keluar dari mulut yesung. Air matamu mengalir, yesung menyeka air matamu. “jangan menangis” kata yesung. “joesong-hamnida” katamu. Yesung mendekapmu kedalam pelukannya. Tangismu pecah. Yesung mengelus-elus rambutmu. “aku akan berusaha menyembuhkanmu” yesung menangkup wajahmu. Kamu mengangguk

***

“aku tidak mau” katamu, “lakukan ini semua untuk ku ren-ah” pinta yesung. Kamu menggeleng, air mata mu kembali mengalir. “itu sakit oppa” . “baiklah, aku saja yang akan melakukan kemoterapi itu” . “jangan” cegahmu. “lakukanlah” kata yesung lirih. Kamu mengangguk menyetujui permintaan yesung untuk melakukan kemoterapi. Seorang perawat menancapkan  selang bening  dipermukaan kulitmu menembus nadimu. Kamu merasakan panas dingin, mual. “oppa, ini sakit” kamu menggenggam tangan yesung erat.

Sel kanker masih berada didalam tubuhmu, bahkan sel kanker itu menyebar dengan cepat. Bantuan medis yang sudah kamu lakukan tidak ada hasilnya. Tubuhmu sekarang sudah kurus, rambut mu setiap harinya rontok karena efek dari kanker itu. Kamu sudah tidak berdaya. “oppa, bolehkan aku pergi keluar?” tanyamu. Yesung menghentikan aktivitasnya yang sedang mengupas buah untukmu. Dia tersenyum, menggeleng. “wae?” tanyamu. “kau masih sakit” kata yesung singkat. “aku sudah sembuh oppa, lihatlah” kamu mencoba tegak dari kursi rodamu, dan tiba-tiba terjatuh. Kamu menangis. Yesung membantumu kembali duduk. Kamu menepis tangan yesung, kamu terisak. Yesung mendekapmu.

“ku mohon lakukan operasi ini” pinta yesung. Dia sudah merayumu beberapa kali, tapi hasilnya nihil. Kamu menolaknya mentah-mentah. “ku mohon” pinta yesung lagi. Kamu menghela nafas. “aku mempunyai permintaan terakhir oppa, dan kau harus berjanji untuk mengabulkannya” katamu. “apapun” kata yesung. “kau ingin apa?” tanya yesung. “aku ingin kita ke tempat pertama kali kita bertemu” katamu.

***

Desiran angin dan gelombang menusuk kulit. Kamu sekarang berada di sebuah pantai tempat pertama kali kamu bertemu dengan yesung. Pantai sangat sepi, hanya ada beberapa pengunjung. Kamu dan yesung duduk di bibir pantai. “mungkin ini terakhir kalinya.. ani, maksudku sebelum aku melakukan operasi lusa, kau tahu oppa, aku ingin sekali mempunyai anak darimu, aku ingin yang banyak kita akan mengasuhnya bersama bukan? …. ah itu pasti sangat menyenangkan” katamu, air mata telah mengumpul di pelupuk matamu. Kamu melihat yesung, dia menangis. “oppa, kenapa kau menangis? Kau cengeng sekali, aku tidak suka melihat lelaki menangis” kamu menghapus air mata yang mengalir di pipi yesung. “gwechana” kata yesung. “kau ingat saat kita bertemu disini, kau sedang membaca buku, dan aku tidak sengaja menumpahkan eskrimku tepat di buku yang sedang kau baca” yesung menerawang langit-langit yang sudah berubah menjadi orange. Kamu tertawa pelan. “oppa, aku lelah bolehkah aku tidur di bahumu? Sebentar saja” pinta mu. yesung mengangguk, dia mengelus-elus kepalamu. “oppa” . “hmm” . “jika aku tidak ada bagaimana?” tanyamu. “kau ini berbicara apa?” . “ani, jika aku tidak berada di sisimu, kau harus mencari penggantinya” . “tidak, hanya kau yang akan berada disampingku.” Kata yesung. Yesung memelukmu .”bagaimana jika kita bernyanyi” Kamu melihat yesung kembali meneteskan air matanya. “berhentilah menangis oppa”. Kamu ikut menangis. Yesung menyeka air matamu. “aku akan berhenti menangis” . “hmm, bagaimana jika aku yang akan bernyanyi” katamu. Yesung mengangguk “tapi setelah itu kau harus lanjutkan nadanya, oppa”. Yesung mengangguk

Goodbye… goodbye… goodbye my love..

I can’t hide… i can’t hide.. can’t hide what has come

I have to go.. i have to go… i hvae to go

And leave you alone

But always know, always know, always know

That i love you so

I love you so… i love you so…

Goodbye, brown eyes…Goodbye for know…Goodbye, sunshine…Take care of yourself

I have to go.. i have to go… i have to go

And leave you alone

But always know, always know, always know

That i love you so, i love you so, i love you so…

Nyanyianmu terhenti, “oppa kau lagi” pintamu. Yesung menyeka air matanya. “bisakah kau menyanyikan lagu untukku? Mungkin setelah aku mendengar suaramu aku akan tertidur lelap” pintamu. Yesung menghela nafas

La lullaby… distract me with your eyes

La lullaby.. la lullaby… help me sleep to night

La lullaby…

Nyanyian yesung terhenti, ketika tanganmu yang digenggam yesung menjadi dingin. Yesung meletakkan kepalamu dipangkuannya, mukamu pucat, darah segar mengalir dari hidungmu. Yesung mencari detak jantungmu tidak ada, nadi dipergelangan tangamu juga tidak ada, tangis yesung pecah mengetahui bahwa tubuh yang berada dipangkuannya tidak bernyawa lagi. Yesung teriak frustasi. Yesung mendekap tubuhmu erat, sangat erat. dia menciummu untuk terakhir kalinya.

***

“kenapa kau tega meninggalkanku?” kata yesung, sudah seminggu kamu meninggalkan yesung, dan seminggu juga dia datang kemakammu. “apakah disana menyenangkan?” yesung menatap langit-langit. “mengapa kau meninggalkanku? Bukankah kau menginginkan mempunyai anak dariku? Tapi kamu meninggalkanku sebelum mimpimu terwujud” yesung tersenyum pahit. “apakah kau merindukanku? Kenapa kau tidak berada disampingku? Kembalilah jika kau merindukanku” yesung menangis. Yesung melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya. “aku pulang ren-ah, hari ini aku akan memeriksa pasien yang mempunyai penyakit sama sepertimu, aku akan berjuang untuk menyembuhkannya, dia seorang anak kecil yang sangat lucu, mungkin jika kau melihatnya kau akan mencubit pipi nya, annyeonghaseyo” yesung menunduk memberikan hormat terkhir. “satu kata yang harus selalu kau ingat ren-ah, saranghae”

 

~the end~

 

need your comment chingu^^

[FF] Love or Like part 3 (ending)

Judul  : Love or Like
By          : MinWo ( @woorieeeee )
Type     : Part 3
PG          : (15+)
Genre
  : Romance
Tokoh : Ren (you), Yesung , Other

~happy reading~

Kamu sudah duduk manis di depan meja rias, kamu melihat pantulan wajahmu di cermin, “ternyata aku cantik juga” pujimu sendiri. Eomma mu masuk. “omona, kau cantik sekali ren-ah” puji eomma mu. “ghamsamnida eomma” kamu memeluk eomma mu, “eomma, siapa yang akan mengantarku ke althar?” tanyamu, eomma mu hanya tersenyum. “seandainya appa berada disini” kamu menunduk. Tiba-tiba pintu terbuka.

Seorang lelaki paruh baya, mengahmpirimu, kamu meteskan air mata. “jangan menangis, make up mu nanti luntur” kamu segera memeluknya, “appa” kamu terisak dibahu appamu. “sudah-sudah, appa sudah kembali” . “jinjja? Appa tidak kembali ke sel itu kan?” tanyamu, appa mu menghapus air mata dengan ibu jarinya. Appa mu mengangguk. Kamu memeluk erat appamu. Kamu sangat merindukannya. “kajja, appa akan mengantarmu ke altar” . “tunggu” cegahmu. “ahjumma tolong perbaiki rias aku, sepertinya sedikit luntur karena menangis tadi” lanjutmu.

***

Muka yesung sedikit tegang. “hyung, whaiting” jong jin memberi semangat kepada yesung. Yesung tersenyum. Lantunan piano menyeruak mengiri mempelai wanita, yesung sudah berdiri, kamu berjalan didampingi appamu, dan sepasang pengantin kecil mengirimu dibelakang dan sepasang pengantin kecil mengiringimu dengan menaburkan kelopak bunga. Kamu mengenakan gaun berwarna putih terjuntai panjang . Yesung mengenakan toxedo dengan warna yang sama sepertimu. Appa mu memberikanmu kepada yesung. Janji suci sudah diucapkan. Yesung memakaikanmu cincin dan kamu juga. “mempelai pria cium mempelai wanita” perintah pendeta yang menikahkanmu. Yesung mencium keningmu, dan semua tamu bertepuk tangan.

***

“aku di kanan dan kau dikiri” katamu, kamu sibuk menyusun guling sebagai pembatas. “kita sudah menikah, apakah kau..” yesung belum menyelesaikan ucapannya, kamu sudah memotongnya. “melakukannya? Aniyo aniyo aniyo, aku belum lulus oppa” rengekmu. “dasar mesum, aku belum selesai ngomong ppabo” yesung mengelus-elus kepalamu. Alismu bertautan. Heran. “wae?” tanya yesung. “biasanya kau memukul kepalaku” . “aku tidak akan menyakiti istriku”. Mukamu memerah mendengar pengakuan yesung. “kau yang pertama mandi” yesung mengangguk. Dia masuk kedalam kamar mandi.

Kamu membersihkan sisa make up, suara pintu kamar mandi terbuka. Yesung keluar tanpa sehelai benang. Kamu berteriak. Cepat-cepat yesung mengambil handuk untuk menutupi perut bagian bawahnya. Kamu menutupi wajahmu dengan kedua tanganmu. Yesung sudah berada didepanmu, yesung membuka kedua tangan yang menutupi wajahmu. Kamu berteriak. Yesung mendekap mulutmu. “berhentilah berteriak” perintahnya.”kau membuatku takut oppa”.

Kamu sibuk mencari resleting gaun yang menempel indah ditubuhmu. “perlu bantuan” tanya yesung. Kamu menggeleng. Yesung mendekatimu dan mencoba membukakan gaunmu. Kamu menempelkan lengan di dadamu. Yesung membantumu membukanya. Kini tubuhmu hanya berbalut handuk yang diberi yesung. “aku sudah menyiapkan air hangat, jadi kau tinggal mandi” kata yesung tanpa mengalihkan pandangannya dari buku. “gomawo”.

Seseorang mengetuk pintu. “ren-ah, ini ada minuman” eomma mu memberikanmu dua buah cangkir. “ghamsahamnida, eomma”. “berikan cucu, ne?” . “aah eomma” rengekmu. Eommamu hanya tersenyum. Kamu menutup pintu. Yesung sedang mengotak-atik ponselnya. Kamu memberikan cangkir permberian eommamu kepada yesung. Yesung langsung meneguknya tanpa ada sisa. “apa rasanya?” . “tidak ada hanya seperti air biasa, mana remote televisi mu? aku bosan” . “disamping lampu itu” kamu menunjuk lampu yang kamu maksud. Kamu sudah menghabiskan minumanmu. Kamu membawa cangkir kosong ke dapur.

“ini sudah malam, kenapa eomma tidak tidur?” kamu meletakkan gelas di tempat pencucian. “eomma belum mengantuk, berikan eomma cucu” matamu membulat. “eomma, aku belum lulus” . “tiga bulan lagi, tidak apa jika kau hamil, itu hal yang wajar” . “eomma” rengekmu. “berhenti merengek, kau sudah menjadi seorang istri, merengeklah dengan suamimu” eomma mu berdiri dan meninggalkanmu sendiri.

“ne eomma… ne.. ghamsahamnida” yesung memutuskan panggilan teleponnya. “siapa?” kamu duduk di pinggir ranjang. “eomma” jawab yesung singkat. Kamu beranjak tidur, dan membetulkan selimut.”aah panas sekali kamarmu” yesung membuka bajunya. “yaak!! Pakai bajumu, aku tidak mau tidur denganmu tanpa kau memakai baju” .  Tiba-tiba yesung menyesupkan lengannya dan memeluk tubuhmu. “wae?” tanyamu, dan membalikkan posisi tidurmu menghadap yesung. “eomma ku menitip pesan kepadamu, berikan seorang cucu” . matamu membulat. “tapi minggu ini harusnya aku akan datang bulan” . “itu bagus” kata yesung. Alismu bertautan. “tadi aku membaca sebuah artikel, kesimpulannya itu bagus” . “bagaimana jika kita mencobanya” lanjut yesung. “mwo?”. Tanpa aba-aba yesung melumat bibirmu. Dan kalian melakukannya (?) malam itu juga.

Kamu berkeliang, sinar matahari menyeruak masuk kedalam kamarmu melalui sela-sela jendelamu. Kamu membalikkan tubuhmu. Mata yesung masih terpejam. Kamu memikirkan kejadian yang kamu lakukan dengan yesung selamam (?). tubuhmu dan yesung tanpa sehelai benang, hanya selimut putih yang menutupi tubuh kalian. Cepat-cepat kamu menuju kekamar mandi. Yesung menahan tanganmu. “mandi bersama ne?” . kamu memukul kepala yesung. “yaak!! Kenapa kau memukulku lagi? Tidak puaskah kau memukul ku tadi malam ha?” teriak yesung. “tadi malam itu sangat menyakitkan… dan itu mem…” . “tapi ku lihat kau menikmatinya” potong yesung. Wajahmu memerah. “benarkan”. Kamu melempar sebuah bantal, dan mendarat mulus diwajahnya. “tutup matamu, aku akan kekamar mandi” . yesung menuruti perintahmu. Kamu memastikannya dengan melambai-lambaikan tangan didepan wajahnya. Dengan cepat kau berlari kekamar mandi. “waw sexy, putih, mulus dan…..” goda yesung. Kamu membanting pintu dengan kuat. Terdengar suara tawa yesung.

“oppa” panggilmu, kamu mengeluarkan sedikit kepalamu dari balik pintu. “wae” tanya yesung. Yesung hanya menggunakan celana kain, tanpa baju. “bisakah kau ambilkan sebuah pembalut dilaci lemariku” katamu pelan. “mwo?” teriak yesung kaget. “jadi, tadi malam itu gagal” lanjut yesung. “cepat” teriakmu. Yesung segera mengambil. “tidak ada” kata yesung. “minta kepada eomma”. Yesung mengangguk dan membuka pintu, “oppa” panggilmu lagi, “pakai bajumu” teriakmu. “wae” tanyanya heran. “ah terserah kau saja” kamu menutup pintu.

“hhm, ajhumma” panggil yesung. “ah menantuku, panggil aku eomma seperti istrimu memanggilku, ne?” . yesung mengangguk. “hmm” yesung sedikit berfikir. “wae?” . “apakah kau mempunyai pembalut” kata yesung sedikit berbisik . “mwo?” pekik eomma mu. “apakah kau menstruasi?” tanya eommamu kepada yesung. “ani..ani.. ren yang sedang mengalaminya” . “apakah tadi malam kau melakukannya” tanya eomma mu. yesung hanya tersenyum salah tingkah. Eommamu juga tersenyum dan memberikan pembalut yang kamu butuhkan.

“chagiya, ini” yesung membuka pintu kamar mandi tanpa mengetuk pintu. Kamu berteriak. “berhentilah berteriak ppabo, kau membuat telinga ku sakit, bahkan tadi malam aku sudah melihatmu polos (?)” kata yesung. Kamu melempar beberapa botol kearahnya. Kamu keluar. Dan bergantian sekarang yesung yang mandi.

***

“chagiya” panggil yesung. Sekarang kamu dan yesung sedang duduk disebuah taman kota, menikmati akhir musim gugur. Kamu hanya berdehem, tanpa mengalihkan matamu dari novel yang baru saja kamu beli. “chagiya” panggil yesung lagi. Kamu menoleh. Sontak membuat mu tertawa karena yesung memasang muka dengan hidung babi. Kalian tertawa. “aah!! Melelahkan, kajja kita pulang” yesung meregangkan otot-otonya. “kau hanya duduk, tidak melakukan aktivitas, dasar tua”. Yesung menggandeng tanganmu. “aku ingin eskrim” katamu. “kau sedang menstruasi, memakan eskrim tidak baik untuk rahimmu” . “jinjja? Bahkan selama ini aku selalu makan makanan yang dingin” . “ppabo” rutuk yesung. “sepertinya yang pantas menjadi wanita itu kau, oppa” . kamu mencubit pipi yesung.

“aku ingin bertanya sesuatu” tanya yesung. “wae?” kamu membalikkan tubuhmu menghadap yesung. Yesung tampak sedang berfikir. “biasanya jika kau menstruasi itu berapa lama?” . “sekitar seminggu, ada apa oppa?” kamu beratanya balik. “aniyo, hanya saja” yesung tampak berfikir lagi. “kita melakannya kemarin malam” . kamu mengangguk. “dan keesokan harinya, kau mengalami menstruasi”. Kamu mengangguk lagi. “masa subur itu setelah masa menstruasi bukan? Tanya yesung lagi. “ne, wae oppa?” . yesung memejamkan matakan matanya, dan menatapmu lekat. “orang tuaku menginginkan seorang cucu.. mungkin kau mengerti bukan?” . “baiklah kita akan melalukannya lagi” katamu dengan kata ‘lagi’ dengan penekanan.

~The end

[FF] Love or Like Part 2

Judul  : Love or Like
By          : MinWo ( @woorieeeee )
Type     : Part 2
PG          : (15+)
Genre
  : Romance
Tokoh : Ren (you), Yesung , Other

~happy reading~

“kau mau makan apa?” . kamu menggeleng. “nanti kau sakit” . “aniyo, aku sedang diet, nanti jika gaunku tidak muat bagaimana?” . “ternyata kau niat menikah denganku” goda yesung. Wajahmu memerah. “maybe” katamu malu. “jinjja? Apakah kau sudah mencintaiku?” tanya yesung. “aku akan mencobanya yesung-shi” . “gomawo” kata yesung

Kamu sibuk memikirkan ciuman pertamamu, dan perhatian yesung terhadapmu “apa aku mulai mencintainya? Aah ren ppabo! Kau memang mudah jatuh cinta, tapi kenapa secepat ini? Ppabo, ppabo, ppabo” kamu merutuki dirimu sendiri. Seseorang masuk kedalam kamarmu, kamu pura-pura memejamkan kedua matamu, dia duduk disisi ranjangmu “aku tahu ini terlalu cepat, sifat kekanak-kanakanmu yang membuatku mudah jatuh cinta kepadamu” . “yesung” umatmu. Yesung menyentuh rambutmu, kamu berkeliang. “saranghae” kata yesung, yesung menyecup dahimu dan memperbaiki selimut yang menutup tubuhmu.

Suara kicauan burung membangunkan tidur lelapmu. “apa ini? Kenapa pinggangku berat?” umpatmu, kamu menoleh kesampingmu, kamu berteriak. Yesung semakin menekapmu erat. “tetaplah seperti ini” mohon yesung, “kau membuatku sulit bernafas” katamu. Yesung tidak menghiraukanmu, dia tetap memelukmu erat, sangat erat kehangatan yang kamu dapatkan saat dipeluk yesung. Kamu membalikkan badan mengahadap yesung, kamu menatap wajahnya dengan mata tertutup dan bibir yang pernah kamu rasakan (?), tiba-tiba saja tanganmu menyentuh bibirnya, mata yesung terbuka dan memberikan sebuah senyuman hangat. “apakah kau mau menciumku?” tanya yesung. Kamu menggeleng. “jinjja?” tegasnya. Kamu mengangguk, “bagaimana jika aku yang menciummu” tanpa persetujuanmu bibir yesung telah menyentuh bibirmu, berbeda dengan kemarin, kamu membalas kecupan yesung. “kau menyukainya” tanya yesung. Entah setan apa yang merasukimu pagi ini, kamu mengangguk. “kau polos sekali” yesung mengusap-usap rambutmu. “baiklah, setiap pagi aku akan memberikanmu” lanjutnya. Matamu membulat. “setiap pagi?” . yesung beranjak dari tempat tidurmu, dia mengangguk mantap.

“tiga hari lagi kita akan menikah” kamu menghela nafas. “apakah kau menyesal?” tanya yesung, mengaduk-aduk kopi yang kalian pesan. “entahlah, yesung-shi apa aku boleh jujur kepadamu?” tanyamu pelan, alis yesung bertautan. Mungkin dia bingung. “jujur sepertinya aku mulai menyukaimu” . “hanya menyukai? Bagaimana dengan mencintai?”. “apakah itu berbeda” . yesung mengangguk. “apa?” . “menyukai hanya kagum, seperti kau kagum pada seorang idola dan itu mudah hilang jika kau berusaha untuk melupakannya” . “bagaimana dengan cinta” tanyamu. “mencintai semakin waktu berjalan, cinta itu tidak mudah dilupakan, walaupun kau mencoba untuk melupakannya, kau mengerti” jelas yesung. “aish! Kata-katamu terlalu tinggi, aku tidak mengerti” . “ppabo!” yesung memukul kepalamu. “yaaak!! Kenapa kau memukul kepalaku” nada bicaramu sedikit tinggi. “sopanlah dengan calon suamimu” . “aish, kau benar-benar menyebalkan” kamu beranjak dari kursimu. “kau mau kemana?” . “pulang” jawabmu ketus.

Yesung mengejarmu dan berhasil menahan tanganmu. “kau marah?” tanya yesung. “menurutmu?” . “kau seperti anak kecil, bagaimana jika kita beli eskrim” ajak yesung, tanpa menunggu persetujuan darimu yesung menarikmu. Kalian berjalan di taman kota dekat rumahmu. “itu disana” yesung menunjuk sebuah kedai kecil yang berdiri tegak dekat kolam. Yesung memesan satu mangkuk eskrim ukuran besar. “hanya satu” tanyamu. “dua sendok” . “kau pelit sekali” kamu mengambil sendok di tangan yesung. “kau lihat pasangan disana, mereka sangat romantis” yesung menunjuk sepasang kekasih sedang menyantap eskrimnya bersama. “aku ingin kau seperti wanitanya, feminime, memakai rok” . “kau pacaran saja dengannya” kamu berdiri dan meninggalkan yesung. Yesung masih terdiam di bangku yang kamu duduki tadi, kamu berbalik. Ekspresi mukanya datar, kamu kembali menghapiri yesung dan mengambil mangkuk eskrim di tangan yesung, dan pergi.

“memangnya siapa dia? Dia saja yang memakai rok seperti itu, dengan menunduk sedikit mungkin celana dalam akan terlihat, dasar namja mesum” Kamu berbicara sendiri, kamu menghabiskan eskrim. “kalau dia memang mencintaiku kenapa dia tidak mengerjarku?” rutukmu. “mana bisnya” kamu teriak frustasi, sudah sejam kamu menunggu bis tidak datang-datang. Semua orang melihatmu, “mianhe, mianhe, mianhe” kamu menunduk beberapa kali. “hei pendek” . kamu mencari sumber suara itu, “seperti suara yesung, dimana dia” kamu menemukan yesung, dia melambaikan tangan. “yaak! Apakah kau mau mati ha?” teriakmu. Yesung tersenyum. Yesung berjalan menghampirimu. “wae? Bukannya kau tidak perduli kepadaku”. Yesung tersenyum. Dia menarik tangamu, dan menyuruhmu masuk kedalam mobilnya. Kamu hanya diam menatap luar jendela. Mobil berhenti. Yesung menuntunmu. Matamu tertutup, yesung menyuruhmu berhenti. Yesung membukakan penutup matamu. Sinar menyusup kedalam matamu. Kamu meteskan air mata. Sebuah taman dengan kelopak bunga berbentuk hati. Yesung jongkok dan dia mengeluarkan sebuah kotak kecil berwarna merah. “mau kah kau menjadi istriku? Aku tahu kau pasti akan menerimanya karena sudah menerima perjodohan, tapi kini aku akan meresmikannya untuk melamarmu dari hatiku” . kamu menghapus air matamu. Kamu mengangguk. Yesung memakaikan sebuah cincin di jarimu, dan mencium keningmu.

“dua hari lagi kita menikah” kata yesung. Kamu mengangguk. Kalian sedang melihat desiran gelombang air laut, menikmati matahari tenggelam seperti dimakan laut yang luas.  Yesung mengelus-elus rambutmu. “nanti jika kita menikah, kau ingin punya berapa anak” tanya yesung. “aniyo” kamu jawab singkat. “bagaimana jika kita punya anak seperti team sepak bola” . “mwo? Kau ingin membunuhku dengan melahirkan anak sebanyak sebelas” . yesung tertawa. “kepala mu besar, tapi kenapa pikiranmu kecil”. Yesung memukul kepalamu. “aish, appo” . “aku ada permintaan, bisa kah kau mengabulkannya?” . “apakah itu sulit?” . “ani, kau cukup memanggilku oppa, bisa kah?” . “itu terlalu sulit, bagaimana jika chagiya” kamu mencium pipi yesung dan berlari. “yaa! Kau menggodaku rupanya” . kamu terus berlari. “jika kau berhasil menangkapku, akan aku beri hadiah” . yesung tegak dan berusaha mengejarmu. Tiba-tiba kamu tersandung dan terjatuh, yesung yang sudah dekat tidak bisa mengontrol dirinya, dan kalian terjatuh. Kalian tertawa. “apa hadiahku?”. Kamu membetulkan posisimu. Yesung mengikutimu duduk. “hmm, pejamkan matamu oppa?” . “kau memanggilku oppa?” kamu mengangguk. “Cepat pejamkan matamu” katamu, yesung mengikuti perintahmu. Kamu mendekatkan wajahmu kewajahnya, kamu memberikan kecupan. “hadiah untuk calon suamiku”

“besok kita menikah chagia” yesung memelukmu dari belakang. “dan besok kau adalah milikku” lanjutnya, kamu hanya tertawa. “sepertinya aku sudah mengerti ucapanmu dua hari yang lalu” . “benarkan” yesung mengeratkan pelukannya di pinggangmu. “aku sudah bisa mencintaimu, apakah kamu memakai mantra” . “iya” yesung mencium pipimu. Kamu dan yesung sedang melihat hasil foto hasil foto pra-wedding. “lihat ini sepertinya kau keberatan ketika menggendongku” . “memang” yesung duduk disampingmu “padahal aku sudah diet” kamu menghela nafas. “apakah diet dengan menghabiskan eskrim big size?” . “yaak!! Itu karena aku kesal kepadamu, mungkin jika kau berada disamping ku, akan ku gigit kepala besarmu itu” . yesung membuka halaman selanjutnya. “lihat ini, sepertinya kau menikmati ciuman ini” . “aniyo, itu ciuman tanpa cinta” . kamu tertawa, dan membuka halaman selanjutnya. “cepatlah kau tidur, besok acara pemberkatan.” Perintah yesung. “ne oppa, jaljayo”.

Kamu sudah duduk manis di depan meja rias, kamu melihat pantulan wajahmu di cermin, “ternyata aku cantik juga” pujimu sendiri. Eomma mu masuk. “omona, kau cantik sekali ren-ah” puji eomma mu. “ghamsamnida eomma” kamu memeluk eomma mu, “eomma, siapa yang akan mengantarku ke althar?” tanyamu, eomma mu hanya tersenyum. “seandainya appa berada disini” kamu menunduk. Tiba-tiba pintu terbuka.

~to be countinue~

[FF] Love or Like Part 1

Judul  : Love or Like
By          : MinWo ( @woorieeeee )
Type     : Part 1
PG          : (15+)
Genre
  : Romance
Tokoh : Ren (you), Yesung, Other

 

“Mwo? Menikah dengannya?” Kamu menatap nanar ibumu, ibumu hanya mengangguk dengan wajah sedihnya.

“Tapi tiga bulan lagi aku akan lulus eomma, dan kenapa minggu depan aku harus menikah?” Racaumu frustasi, kamu mulai kesal dengan perjodohan ini,. Menikah dengan namja yang baru kamu kenal sebulan yang lalu karena acara di kantor appa nya.

Continue reading

[FF] Kiss The Rain Part 4 (Ending)

Judul              : Kiss The Rain
Author            : min Sooyeon ( @firdaa_ningrum )
Type               : Part 4
Genre             : Sad Romance, No Yadong!
PG                  : (13+)
Tokoh             : Kim Ryeowook ( Ryeowook ), Jung So Hee ( Sohee ), Jung Soo Hee ( Soohee )

 

Annyeonghaseyo chingudeul! Ini adalah salah satu Fan Fiction yang murni dari kerja keras otak sendiri. No Bashing, No Copas ya! Eh, satu lagi. Don’t be silent reader ya! Komentar kalian benar-benar kutunggu untuk bahan evaluasi di Fan Fiction selanjutnya. Mianhae kalo ceritanya jelek. Kamsa^^

Continue reading