[FF] Look At Me Part 1

Title: Look At Me Chapt 1

Cast:

  1. Kim Jong Woon / Yesung
  2. Lee Hae Ra (OC)
  3. Kim Ryewook
  4. Lee Sungmin

Author: Virniari

Genre: Sad, Romance

Rating: PG-14

Cp: @virniari

Cp: Virga Azzania Ashari

Catatan Author: NO PLAGIAT! NO BASHING! Don’t be silent rider😦 please RCL🙂 saran kritikan dan pujian diterima dengan lapang dada😀 kalau ada kesamaan cerita, mungkin itu sebuah kebetulan🙂

***

Author POV

Yeoja berambut sepundak itu masih menatap peti yang berangsur tertutup tanah. Tak ada air mata. Tak ada teriakan. Dan tak ada gerakan yang yeoja itu lakukan. Hanya diam berdiri dan mematung. Ia yakin, air mata yang sedari tadi turun sudah terkuras habis.

Kembali Lee Hae Ra menghela napas. Entahlah. Jauh didalam hatinya, masih ada rasa tidak rela melihat namjachingu-nya yang mulai menyatu dengan tanah. Mulai terkubur dan tak akan ada disampingnya.

“kau…Lee hae ra?”

sebuah suara terdengar dibelakang yeoja itu. Yeoja itu bergeming. Tetap memakukan tatapannya pada peti didepannya tanpa memperdulikan suara namja yang bersuara tadi.

“jangan diam. ia sudah pergi.” lagi-lagi suara itu terdengar. dan kali ini hae ra bereaksi. Yeoja itu tidak suka dengan kalimat terakhir yang namja tadi ucapkan.

“apa maksudmu?” tanya Hae Ra dengan suara lirih, namun tetap tidak menatap lawan bicaranya.

“hyungku sudah pergi. Dan hyungku menyuruhku untuk menjagamu sampai kau bisa melepaskannya.”

“tidak perlu,” sahutnya dengan kepala tertunduk. “aku tidak butuh kau, siapapun.”

Lee Hae Ra POV

Aku menunduk. Aku tau namja yang berdiri dibelakangku kini. Ia Kim Jong Woon. Ia yesung. dan ia adalah dongsaeng namjachingu-ku. ehm. mantan namjachingu-ku.

Huft. Kim Ryewook. Ia pergi hari ini. Dia bukan pergi berlibur, namun pergi kesurga. Tak tahu berapa banyak air mata dan teriakan yang kulontarkan. Dan saat ini aku sangat lelah.

“tidak perlu,” kataku dengan suara bergetar. “aku tidak butuh kau, siapapun.” lanjutku, lalu memutar tubuhku dan bersiap meninggalkan yesung. Kurasa aku sudah terlalu lama disini. Peti sudah terkubur sempurna dan tidak ada lagi sanak keluarga yang ada ditempat ini. Hanya aku dan… Yesung.

“chakkaman,” yesung menahan lenganku. “aku menghormati hyungku, maka dari itu aku akan menuruti kemauannya.” katanya menjelaskan. “hanya sampai kau bisa melepaskannya.”

Aku menepis tangannya. Hatiku sakit. Ryewook tidak pergi. Ia masih ada disini. Di hatiku. “terserah,” kataku dengan helaan napas. “aku tidak akan pernah melepaskannya.”

Yesung kembali meraih tanganku dan menariknya sedikit kasar. Aku meronta sebagai refleks. Namun namja itu tidak membiarkanku lolos dan memaksaku masuk kedalam mobil yang terpakir didekat pemakaman.

“kau jangan bodoh,” katanya setelah berhasil mendudukkanku dijok mobil. “Ryewook sudah pergi. Dan sekarang ada aku yang harus menjagamu,” ia menghidupkan mesin mobil. Ia menoleh menatapku sebelum benar-benar menjalankan mobilnya. “Ini semua karena aku hormat pada hyungku. Aku melakukan ini karenanya. Kau pikir aku tidak repot harus mengurusi yeoja cengeng sepertimu?”

Hatiku sakit mendengar semua omongan yang keluar dari mulut yesung. “aku tidak memintanya.” kataku lirih. dengan mata yang sudah sedikit membendung air mata, aku kembali berkata, “lupakan kehormatanmu pada ryewook. Aku tidak butuh.”

Aku membuka pintu mobil dan keluar disaat yang bersamaan dengan air mata yang mulai turun. Entah karena aku tidak memperhatikan cuaca tadi, tiba-tiba gerimis mulai turun. Aku mendengar bunyi pintu mobil yang terbuka lagi. Aku tahu yesung akan mencegahku pergi. Namun aku naif dan mulai berlari kecil meninggalkan mobil.

Samar-samar aku mendengar teriakan yesung yang mengatakan, “awas!” diantara bunyi rintikan hujan yang mulai deras. Lalu yang kutahu aku merasakan sakit luar biasa dan mendadak semuanya gelap.

Yesung POV

Ya tuhan! benarkah apa yang baru saja kulihat ini? Dua kalikah harus kulihat kecelakaan didepan mataku secara langsung?

Aku sudah memperingati yeoja itu berulang kali untuk berhati-hati. Pemakaman ini memang sepi, namun ditempat parkir disamping jalan raya ini sangat ramai. Dan sedetik setelah kukatan “awas!”, hal itu terjadi.

Refleks aku berlari kearah Hae Ra yang terbujur kaku dengan darah yang mengucur deras dari kepalanya. Aku tidak tahu ini adalah air mata atau air hujan, namun bisa kulihat wajahnya yang memerah dengan air yang keluar dari matanya.

Aku menoleh menatap mobil yang menabrak Hae Ra. Sial! mobil itu sudah pergi menjauh dan nomor polisinya sudah tak terjangkau oleh mata. seketika semua orang yang berlalu lalang dijalan menghampiriku dan membantuku membawa Hae Ra yang tak sadarkan diri masuk kemobil.

“lagi?” kataku lirih sambil cepat-cepat menghidupkan mesin mobil dan mulai melajukannya.

Aku seperti orang kesetanan. Melanggar lampu merah dan hampir menabrak anak kecil yang sedang menyebrang hanya untuk lebih cepat sampai kerumah sakit. Aku tidak ingin melakukan kesalahan lagi.

Hae Ra POV

Sakit. Kepalaku sangat sakit. Ku gerakkan tanganku sedikit, namun semua seperti usaha yang sia-sia. Tanganku kaku dan terasa berat. Kubuka mataku perlahan dan mendapati ruangan yang walau hanya sedetik sudah bisa kukenali. Kamar rumah sakit.

“kau sadar?”sebuah suara membuatku menoleh serta merta. Penampakkan sebuah wajah disampingku dengan sangat cepat membuatku kehilangan mood yang dasarnya memang sudah buruk.

“gwenchana?” tanya Yesung sambil menyentuh kepalaku.

“aw!!” ringisku dengan mata menyipit.

Yesung terlonjak dan segera menarik kembali tangannya ketika mendengar ringisanku. “mian,” katanya sambil meraih tanganku.

glek. apa ini? kenapa tidak ada rasa sama sekali?

“hae ra? gwenchana?”Aku menelan ludah dengan susah payah. “kenapa tidak ada rasa?” tanyaku dengan suara tercekat.

Bisa kulihat air muka yesung berubah seketika. Ia memperat genggaman tangannya ditanganku. Namun anehnya aku tidak merasakan apapun. “mian,” katanya dengan wajah yang mulai menunduk. “mian aku tidak bisa menjagamu. aku tidak bisa menepati janjiku dengann hyungku.”

“kau bicara apa?” potongku tidak sabar. Berjuta rasa takut menghinggapiku. Kulihat mulutnya mulai terbuka.

“tanganmu kirimu lumpuh.”

***

Aku memasuki rumah mewah bernuansa klasik ini dengan tangan kiri yang terbebat. Aku memang tidak punya siapa-siapa lagi didunia ini. Kupikir dengan aku bisa menikah dengan ryewook nantinya, aku bisa bahagia. Namun yang aku dapatkan adalah namja itu ikut meninggalkanku.Aku menghela napas, lalu mengedarkan pandangan keseluruh rumah ini. Sangat indah.

“Kamarmu disana,” suara yesung terdengar dari arah bar kecil yang ada disamping ruang tamu. Ia menunjuk kearah lantai dua. Disana ada dua kamar dan aku mendapatkan kamar tepat didepan kamarnya. “Istirahatlah.”

Aku memejamkan mataku sesaat. Hening. “Mana yang lainnya?”

“Sudah kembali keaktivitas semula,” jawabnya sambil membuka kulkas.

“Secepat itukah?!” Suaraku meninggi. Yesung menoleh menatapku, lalu mengeluarkan botol air dari dalam kulkas.

“Kau kemarin koma. Tidak sebentar, tapi hampir seminggu.” Sahut yesung. Ia meneguk air minum itu langsung dari botolnya.

Aku menghela napas. Apakah hanya aku yang sangat merasa kehilangan? Kenapa semuanya terasa aneh?

Aku berjalan kearah yesung dan meraih koperku dengan tangan kanan. Namun yesung mencegahnya.

“Biar aku yang bawa. Kau kekamar saja,” katanya sembari meletakkan kembali botol minum tadi. “Mulai sekarang kau akan tinggal disini dan aku akan menjagamu sampai kau bisa melepaskan hyungku.” Aku menunduk. “ani. Sampai tanganmu benar-benar sembuh.

Aku menatap tangan kiriku. Aku kini orang cacat. Apa yang bisa kulakukan dengan hanya tangan kanan?

***

Hari ini tepat dua hari setelah aku bangun dari komaku.

Sungguh, aku sangat tersiksa dengan keadaanku yang seperti ini. Aku merasa kesulitan jika harus melakukan sesuatu. Tapi untung saja ada yesung yang membantuku. Namun ketika ia melakukan kebaikan padaku, kata-katanya waktu itu langsung berkelebat dibenakku.

“Ini semua karena aku hormat pada hyungku. Aku melakukan ini karenanya. Kau pikir aku tidak repot harus mengurusi yeoja cengeng sepertimu?”

Itu lah kata-kata yang ia ucapkan. Sampai sekarang aku masih sakit hati dan selalu berpikir dua kali jika ingin meminta bantuan.

Namun kupikir kali ini tidak apa jika aku meminta bantuan padanya. Hari ini aku harus kerumah sakit dan memulai terapi untuk tangan kiriku. Kan lebih baik jika ia mengantarku dan dengan begitu tak akan ada masalah, lalu aku sembuh dan yesung bisa melepaskanku.

Dan apakah yesung akan meninggalkanku?

Hm. Tentu saja. Apa yang aku pikirkan? Bahkan orang yang aku cintai saja bisa meninggalkanku, apa lagi yesung yang notabene hanya malaikat penjagaku?

“Kau sudah siap?”

sebuah suara muncul dari arah pintu. Aku menoleh. Yesung.

“Memang kau mau mengantarku?” Aku bertanya ragu. Yesung terkekeh pelan.

“Aku ini sedang menjaga yeoja cengeng, kau ingat?” Alisnya terangkat sedikit. “Sudahlah, cepat berangkat.”

Aku mengangguk. Dia membalikkan tubuhnya dan melangkah pergi. Haa~ aku menghela napas dan mengibaskan rambut pendekku kebelakang dengan tangan kanan. Aku berjalan keluar kamar dan mengikutinya masuk kemobil.

Hening. Hanya keheningan yang ada dimobil selama perjalanan kami sampai kerumah sakit. Kupikir aku memilih keputusan yang tepat ketika yesung menyuruhku untuk tinggal dengannya. Namun sepertinya aku salah. Aku benci keheningan.

***

Coba tebak siapa yang ada didepanku sekarang? Hm. Kim Ryewook. Benar, dia ada didepanku sekarang. Ia terbujur kaku didalam peti dan sudah terkubur didalam tanah. Sedangkan yesung? Ia kusuruh menunggu dimobil.

Aku menarik napas sebentar, lalu menyentuh tanah yang menguburnya.

“Disana, apakah dingin?” Tanyaku dengan suara bergetar. Tanah yang kusentuh tadi terasa dingin ditanganku.

“Apakah disana ada yeoja yang menggantikanku?” Aku menyentuh bunga-bunga segar yang kubawa. Kuambil sejumput dan menghamburkannya diatas tanah.

“Mianhae, aku hanya menaburkan bunga ini dengan satu tangan. Tanganku yang satunya lagi sedang beristirahat.” Aku mencoba tersenyum, namun yang bisa kulakukan malah terisak.

“Aku baru saja pulang terapi. Rasanya sakit, oppa. Tapi aku tahan, kok. Aku kan mau sembuh demi oppa.” Lagi-lagi aku mencoba tersenyum, namun aku semakin terisak.

“Oh ya, oppa. Mian saat oppa kecelakaan waktu itu aku tidak ada disamping oppa. Aku telat datang dan malah melihat oppa yang sudah seperti ini.” Aku menarik napas. “Namun sebagai gantinya aku juga terlibat dalan kecelakaan, kan? Apakah aku sudah membayar kesalahanku?”

Aku bangkit berdiri dan menyeka air mataku yang mengalir deras. “Gomawo, oppa. Gomawo atas semuanya, dan malaikat penjaga yang kau utuskan untukku.” Kupejamkan mataku sesaat. “Namun aku tidak butuh itu. Aku butuh kau, ryewook.”

Yesung POV

Aku menunggu didalam mobil yang kuparkir tidak jauh dari tempat dimana hae ra berdiri saat ini. Kulihat dari tadi ia berkomat-kamit sambil menaburkan bunga. Kurasa ia sedang berbicara dengan hyungku.Hm. Tiba-tiba aku teringat dengan kejadian dimana ryewook ditabrak lari tepat didepan mataku. Aku tahu aku sudah salah saat itu. Kami berkelahi waktu itu.

Kupikir bukan ryewook yang ditabrak, melainkan orang lain. Namun yang kudapati saat kembali menoleh, benar saja. Ryewook yang terbujur kakulah yang kudapati.

Aku menghela napas. Aku merasa sangat bersalah, dan beberapa menit sebelum ia meninggal dikamar rumah sakit, ia berkata,

“Jaga hae ra. Sampai ia bisa melepaskanku saja.”

Begitulah katanya. Dan selang beberapa menit, ia sudah pergi.

Tanpa sadar setetes air jatuh dari mataku. Cepat-cepat kuseka ketika menyadari hae ra sudah berjalan kearah mobilku.

Mata yeoja ini bengkak. Wajahnya merah padam dan berkali-kali bernapas dengan susah. Ia membuka pintu mobil dan duduk dijok sampingku.

Aku menoleh menatapnya. Sepertinya ia tidak menyadari kalau aku memperhatikannya. Ia hanya menatap lurus kedepan. Tatapan hampa yang membuatku risih.

“Pulang?” Tanyaku memecah kesunyian.

Ia bergeming, lalu mengangguk pelan. Aku menarik napas dan kemudian menghidupkan mesin mobil.

Keheningan kembali menyelimuti keadaan mobil. Aku tetap fokus pada jalanan hingga ketika kudengar suara dengkuran kecil yang lirih. Aku melirik kesampingku dan mendapati hae ra yang terlelap lelah.

“Kalau kau tidur, kau terlihat lemah,” gumamku.

Entah kenapa dadaku terasa berdesir. Melihatnya tidur dengan tampang lelah kembali membuatku bersalah.

Aku tahu ini salahku. Aku harus cepat-cepat membuatnya melepaskan hyungku. Membuat tangan kirinya cepat sembuh. Dan dengan begitu aku tidak perlu menjaganya. Tidak perlu dekat lagi dengannya. Dan tidak perlu kembali merasa bersalah.

***

Disini, siapakah yang berperan sebagai antagonis? Akukah? Tapi kenapa aku merasa kalau aku ini adalah protagonis?

Hae Ra POV

Hari baru, haruskah adanya senyuman yang mengiringi?

aku bangun setelah tidur selama 9 jam. Sudah seminggu ketika tanganku tidak bisa digerakkan. Sudah 3 kali aku mengikuti terapi, dan aku sudah sedikit bisa merasakan sentuhan. aku sangat berharap tangan kiriku cepat sembuh. Walaupun aku belum bisa melepaskan ryewook, namun aku bisa berbohong untuk itu. aku ingin cepat-cepat pergi dari sini. Cepat-cepat lepas dari yesung. Karena aku tidak ingin merepotkan.

Namun, aku tahu ini tidak mudah. Tanganku saja masih sulit digerakkan. Mungkin sebulan atau dua bulan lagi tanganku akan sembuh total. Dan itu adalah waktu yang lama. aku tidak bisa merasakan keheningan selama itu. Dulu sebelum bertemu ryewook, hidupku memang hening. Datar. Tidak berwarna. Tapi saat bertemu dengan ryewook, semuanya berubah. Kata hening sudah tak ada dikamus hidupku.

“Hae ra? Kau sudah bangun?”

suara yesung terdengar dibalik pintu. Ketukan-ketukan kecil juga terdengar. Aku melirik jam dinding disampingku. Jam 7.25.

Aku bangkit dari posisi duduk nyamanku ditepi ranjang dan berjalan kearah pintu. Kubuka pintu itu perlahan dan sosok yesung dengan sempurna terlihat. Sangat rapi dan sedap dipandang.

“Kau sudah bangun, atau terbangun?” Tanyanya pelan.

Aku memasang wajah seperti sedang berpikir. “Sudah bangun, sepertinya.”

Ia membentuk huruf o dengan mulutnya. “Baiklah. Aku mau pergi kekantor. Aku sudah membuatkanmu sarapan. Makanlah.” Katanya, lalu berbalik. Belum sempat yesung benar-benar melangkah, aku menahannya.

“Kau kenapa begini?” Tanyaku sambil kembali menarik tanganku. Ia menatapku bingung. “Kenapa kau membuatku merasa aku sangat merepotkan?”

Entah perasaanku atau bagaimana, air muka yesung berubah.

“Kau bilang aku sangat merepotkanmu. Jadi, jangan buatkan aku sarapan. Aku tahu aku cacat, tapi jangan buat aku merasa kalau aku ini tidak bisa apa-apa.”

“Bu-bukan…”

“Dan satu lagi. Aku janji aku akan segera sembuh dan aku tidak membutuhkanmu lagi.” Aku menarik napas. Mengepalkan tangan kananku, berusaha meyakinkan diriku lagi. “Tapi, bisakah aku minta satu hal padamu?”

Yesung diam sejenak. “Apa?”

“Bisakah kau mencarikanku satu teman? Aku tidak suka keheningan.” Kataku akhirnya.

“Maksudmu…”

“Aku tahu kau tidak mau berteman denganku.” Selaku cepat. “Menjagaku hanya karena ryewook, kan? Jadi lebih baik carikan aku teman agar aku tidak kesepian dan larut dalam kesedihan.”

“Maksudmu mencarikan orang yang akan menjagamu?” Tanyanya tidak mengerti.

“Ya.” Jawabku mantap. “Bukankah kau hanya terpaksa menjagaku? Aku tidak ingin ada keterpaksaan disini.”

“Ta–”

Aku tidak mendengar suaranya lagi karena aku sudah berbalik dan kembali masuk kedalam kamar.

Huft. Apakah aku salah? Aku hanya ingin punya teman yang tulus. Karena aku tahu, dari awal yesung tidak menyukaiku. Ia hanya menganggapku hal yang membuatnya repot. Dan itu membuatku tidak enak.

Ahh~ apa yang harus kulakukan?

Yesung POV

Aku tidak mengerti maksud ucapan hae ra tadi pagi. Mencarikannya teman? Untuk apa? Bukankah ada aku yang saat ini sudah menjadi temannya? Lalu apa yang kurang?

Aish. Nappeun yeoja.

Aku sudah dibuatnya repot karena harus menjaganya dan aku harus sempat vakum dari kantorku selama seminggu terakhir. Haa~ memang sangat menyusahkan yeoja itu.

Tiba-tiba satu nama terlintas dibenakku.

“Lee Sungmin…”

TBC

3 thoughts on “[FF] Look At Me Part 1

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s