[FF] Look At Me Part 2 (END)

Title: Look At Me Chap 2 (END)

Cast:

  1. Kim Jong Woon / Yesung
  2. Lee Hae Ra (OC)
  3. Kim Ryewook
  4. Lee Sungmin
  5. Kim Min Young (OC)

Author: Virniari

Genre: Sad, Romance

Rating: PG-15

Length: TwoShoot

Previous Chap: Chap 1

Cp: @virniari

Cp: Virga Azzania Ashari 

Please Don’t be silent reader! Don’t be plagiator! Coment untuk menghargai karya saya ><

***

Lee Sungmin POV

Rumah bermodel klasik didepanku memang sangat megah. Aku tahu dengan pasti ini adalah rumah teman lamaku, yesung. Sudah hampir satu tahun aku tidak bertemu dengannya, dan tiba-tiba tiga hari yang lalu ia menghubungiku.

Entah maksudnya apa, ia menyuruhku hari ini untuk datang menemuinya. Untung saja hari ini aku sedang free, jadi tidak ada alasan untuk tidak datang menemuinya.

Kuteliti bagian disekitar pintu bercat cokelat didepanku. Meneliti dengan seksama mencari bel. Dapat.

Kutekan beberapa kali bel tersebut dan tidak lama terdengar derap langkah kecil dari dalam. Satu sosok yeoja terlihat membukakan pintu didepanku.

“Annyeong..” Sapanya sambil tersenyum.

“Annyeong,” aku membungkuk.

“mencari siapa?” Tanyanya.

“Yesung ada? Aku lee seungmin.” Kataku sambil memanjangkan leher, berusaha melihat kebelakang.

Wajah yeoja didepanku berubah cerah. Ia meraih tanganku dan menuntunku masuk kedalam rumah. “Aku Lee Hae Ra. Kajja. Kau temanku.”

Yesung POV

Kupikir ini tidak salah. Kurasa dengan meminta tolong pada Lee Sungmin, aku bisa cepat-cepat terbebas dari permintaan hyungku—menjaga hae ra.Untung saja tiga hari yang lalu aku mempunyai ide cemerlang seperti ini, dan sungmin menyanggupinya. Hari ini ia akan datang kerumahku dan langsung bertemu dengan hae ra. Kemarin aku juga sudah bilang pada hae ra, kalau ada orang yang bernama lee sungmin, itulah temannya. Kuharap sungmin bisa membuat hae ra melepaskan hyungku dan aku bisa cepat-cepat mengusir hae ra~

Nah, disinilah aku. Berdiri dengan senyuman mengembang diwajahku. Entah kenapa aku sangat bersemangat setelah memikirkan hae ra yang sebentar lagi bisa kudepak.

Aku masuk kedalam rumah lalu menutup pintu kembali tanpa suara. Menelusuri dengan langkah pelan, mencari-cari sosok sungmin yang kuyakin menepati janjinya untuk kerumahku hari ini.

Aku berjalan kearah dapur untuk mengambil minuman. Sembari mengambil botol minum dari dalam kulkas, kuedarkan pandanganku kepenjuru rumah. Tidak ada tanda-tanda kehidupan. Setelah meneguk air minum langsung dari botolnya, aku menaiki tangga dan masuk kekamarku.

Namun belum sempat kuraih kenop pintu, langkahku terhenti. Kamar hae ra tepat didepan kamarku. Dan tanpa sengaja mataku melihat pemandangan yang menarik dari celah pintu hae ra yang sedikit terbuka.

Lupakan kegiatan meraih kenop pintu, membukanya dan menerjang kasur untuk tidur. Aku melangkah mendekati pemandangan itu dan membuka pintu kamar hae ra lebih lebar.

Lee Hae Ra dan Lee Sungmin.

Hae Ra POV

Lee sungmin memang teman yang menyenangkan! Ia ramah, baik, dan juga tampan. Tadi siang saat ia datang, sungmin memang sedikit canggung. Namun lambat laun, kami sudah seperti teman lama yang tak akan terpisahkan.

Awalnya kami saling ngobrol tanpa tau tujuan. Dan akhirnya ia bertanya kenapa aku bisa ada disini. Dirumah yesung. Aku menceritakan semuanya. Dari saat ryewook kecelakaan dan meinggal. Saat yesung mengatakan bahwa ia akan menjagaku untuk ryewook. Dan sampai tanganku begini, lalu perjanjian dengan diriku sendiri kalau aku akan segera pergi dan tidak ingin merepotkan yesung.

Saat itu aku menangis karena harus mengingat ryewook. Sungguh, saat itu aku merasa ryewook lah yang bercerita, bukan aku.

“Uljima…” Sungmin berkata sambil meraihku kedalam pelukannya. “Aku akan membantumu melepaskannya.”

Nyaman sekali pelukannya tadi. ”Anni,” kataku sambil menggeleng didadanya. “Aku tidak bisa melupakannya.”

“Bukan melupakan,” sanggahnya cepat. “Hanya melepaskan, dan ryewook akan tetap ada dihatimu.”

Begitulah katanya tadi siang. Sangat menenangkan. Aku tersenyum saat itu, dan kami kembali ngobrol seperti biasa.

Krekk~

Suara pintu terbuka. Aku menoleh cepat dan mendapati yesung sedang menatapku dan sungmin dengan pandangan selidik. Aku melirik sungmin yang masih terlelap disofa kamarku. Sedangkan aku ada disamping sofa sambil memakan pop corn.

“Kenapa bisa disini?” yesung bertanya sambil menunjuk sungmin.

“Dia lelah,” jawabku singkat. Aku merasa badmood ketika melihat yesung. Tidak tahu kenapa.

“Eung~” suara erangan terdengar. Sungmin menggeliat kecil, mengucek matanya, lalu melotot cepat ketika melihat yesung yang menatapnya dengan tangan bersedekap. “Kau sudah pulang?”

Yesung mengangguk. “Sudah,” lalu ia menatapku dan sungmin bergantian. “Kalian sudah makan?”

aku dan sungmin menggeleng. “aku lapar.” Kata sungmin dengan seringaiannya.

“Kau lapar, oppa?” Tanyaku manis.

Sungmin mengangguk dengan wajah cemberut yang dibuat-buat. “Ayo buatkan aku makanan. Aku lapar, hae ra-ya~”

“Baikalah, oppa~” aku tersenyum dan mengangguk. Aku menoleh menatap yesung. Ia masih menatapku. “Kau sudah makan?” Tanyaku datar.

Ia diam sejenak. “Belum” katanya, lalu aku bangkit dari posisi dudukku dan melangkah keluar kamar melewatinya.

Aku menoleh kebelakang saat sudah diluar kamar. Aku masih melihat yesung dan sungmin dari celah pintu. Lalu, yesung berjalan kesofaku, duduk disana lalu entahlah. Aku sudah meninggalkan lantai dua dan berjalan kearah dapur.

Yesung POV

“Kau lapar, oppa?” Tanya Hae Ra sok imut.

Aish! Menjijikkan sekali! Oppa? Aku saja yang sudah dikenalnya beberapa minggu ini masih menggunakan embel-embel ssi.

Sungmin menggeleng lalu memasang tampang cemberut yang tak kalah menjijikkan. “Ayo buatkan aku makanan. Aku lapar, hae ra-ya~”

See?! Belum satu hari saja mereka sudah menggunakan embel-embel ‘ya’ dan ‘oppa’! Aish!!

“Baikalah, oppa~” Hae Ra tersenyum dan mengangguk. Lalu ia menoleh menatapku. “Kau sudah makan?” Tanyanya datar.

sial. Yeoja itu bisa bersikap manis pada sungmin dan langsung berubah 360 derajat padaku. Mana sikap manisnya? Kenapa padaku langsung memasang tampang datar?!

“Belum,” jawabku tak kalah singkat.

Setelah itu, ia bangkit dan keluar dari kamar. Kini hanya ada aku dan sungmin. Aku berjalan kearah sofa dan duduk disampingnya.

“Bagaimana?” Tanyaku sambil bersedekap.

Sungmin memasang tampang berpikir, lalu berkata dengan seringaian, “Hae Ra menyenangkan, bodoh. Bagaimana bisa yeoja itu tidak punya teman?”

Aku mencibir. “Menyenangkan katamu? Ia selalu bertampang datar jika bersamaku. Menyebalkan sekali!”

Sungmin terkekeh. “itu karena kau yang tidak bisa berbaur dengannya. Orang yang sedang berkabung tidak bisa asal mendengar omongan, ppabo. Apalagi omonganmu yang itu….”

“Yang mana?” Keningku mengerut, bingung.

“Yang intinya kalau Hae Ra adalah yeoja cengeng yang merepotkanmu.” Jawab sungmin enteng.

“Hae Ra menceritakannya padamu?” Tanyaku dengan tangan terkepal. Sungmin mengangguk. “Apalagi yang yeoja itu katakan?”

“Banyak hal,” sahut sungmin sambil berdiri dari duduknya. “Semua hal.”

Aku mendesis. Ternyata yeoja itu banyak bicara. Kenapa didepanku hanya diam? “Pasti banyak tangisan yang keluar tadi siang,” gumamku.

“Ne,” sungmin mulai melangkah menuju pintu. “Ia mengingat ryewook tadi siang. Jadi aku memeluknya,” memeluk hae ra?!

“Memeluknya?!” Sial. Suaraku seperti orang yang tercekik. Sungmin mengangguk.

“Sepertinya aku harus bisa membuatnya lebih cepat melepaskan ryewook. Itukan yang kau mau?”

“Ne,” kataku sambil menunduk. “Yeoja itu harus cepat-cepat melupakan hyungku.”

“Bukan melupakan,” sela sungmin sambil menatapku aneh. “Hae ra hanya harus melepaskan ryewook, tidak melupakannya.”

Setelah berkata seperti itu, sungmin keluar dari kamar hae ra dan meninggalkanku yang masih terdiam. Melepaskan dan melupakan. Dua kata berbeda namun mempunyai arti yang bedanya hanya tipis. Haa~

Aku menatap sekeliling kamar hae ra. Tidak ada yang menarik. Aku bangkit dari dudukku dan masuk kedalam kamarku. Setelah berganti pakaian dan mandi sebentar, aku turun kelantai satu.

What the h…?!

Kulihat Hae Ra sedang memasak didapur. Yeoja itu membelakangiku. Dan tiba-tiba sungmin berjalan kearahnya dan memeluk hae ra dari belakang.

Shit. Dadaku langsung sesak. Kakiku lemas dan hampir saja jatuh terjerembap karena aku masih berdiri dianak tangga paling bawah. Rumahku ini tanpa sekat. Jadi mata mempunyai akses untuk melihat keseluruh penjuru rumah.

“Ehm!” Aku berdeham kencang sambil berjalan kesofa depan TV, seolah tidak ada apa-apa.

Bisa kulihat dari ujung mata, sungmin melepaskan rengkuhannya dan menjauh dari hae ra agak saliting. Aku mencibir. Apa yang mereka lakukan tadi siang hingga bisa sedekat ini sekarang?!

***

“Ayoo~ makanan sudah siap~” hae ra berteriak senang sambil duduk manis di kursi meja makan.

Aku mematikan TV yang kutonton sedari tadi dan ikut duduk untuk makan dimeja makan bersama hae ra dan sungmin. Hae ra dan sungmin duduk bersebelahan, sedangkan aku memilih duduk didepan Sungmin.

Didepan kami, ada banyak makanan yang sebenarnya sangat menggiurkan. Aku tidak menyangka hae ra bisa memasak sebanyak ini. Soalnya sebelum ini, hae ra hanya memasak makanan sederhana. Namun kali ini ia memasak dengan sedikit aksen mewah. Jujur saja, aku ingin sekali menyantap makanan ini dengan sekali lahap. Karena aku yakin, semua makanan ini sangat enak. Namun semuanya langsung buyar. Perutku mendadak mulas….

“Oppa, ada nasi diujung bibirmu,”

Suara hae ra yang sebenarnya tidak manis dibuatnya sangat manis. namun semua itu terdengar menjijikkan ditelingaku.
“Oh ya?” Sungmin menaikkan alisnya. Hae ra mengangguk lalu meraih tisu yang ada didepannya. Diambilnya beberapa helai, lalu dibersihkannya nasi yang menempel diujung bibir sungmin. “Gomawo.” Sungmin tersenyum, lalu melanjutkan makannya.

Aish! Tiba-tiba aku ingin muntah dan aku sudah tidak ada napsu makan lagi. Lihat saja. Bahkan aku belum ada menyentuh nasi maupun lauk dihadapanku. Sudahlah. Lebih baik aku cepat habiskan makanan ini, dan aku bisa cepat-cepat muntah dengan leluasa.

Aku seperti orang kalap malam ini. Meminum nasi dan lauk sampai mau tersedak.

“Ya, ada nasi diujung bibirmu,”

Tebak, itu suara siapa? Itu suara sungmin. Lalu, apa yang aku harapkan? Dan, coba tebak apa yang ia lakukan? Ia mengambil beberapa helai tisu, lalu membersihkan nasi yang menempel diujung bibirku. Dari sudut mataku, bisa kudapati hae ra yang menahan tawa.

Sial. Kenapa harus sungmin yang melakukannya?! Tapi… Kalau bukan sungmin, siapa yang kuharapkan melakukan ini?

Hae Ra POV

Yah, rumah ini kembali sepi. Berbeda sekali dengan kemarin. Kulirik jam dinding dirumah ini, dan helaan napas saja yang bisa kukeluarkan. Sungmin oppa tidak datangkah hari ini? Ini sudah jam 1 siang. T.T sedihnya~

“Sudah makan?”

Sebuah suara dari balik tubuhku membuatku kaget dan tersentak. Cepat-cepat kutolehkan kepalaku kebelakang, menerka-nerka siapa yang datang. Yah, yesung.

“Belum.” Jawabku singkat. Aku kembali keposisi semula. Menghadap TV, bantal diatas paha, dan sesekali melirik jam.

Yesung berjalan dan duduk disampingku. Sepertinya ia sadar kalau aku selalu melirik jam dengan gelisah. “Menunggu sungmin?” Tanyanya.

Aku meliriknya. “Ne~”

“Ia tidak akan datang,” jawab yesung, lalu menyandarkan punggungnya kesandaran sofa.

“Wae?” Tanyaku tidak senang.

Yesung mengedikkan bahu. “Hari ini ia ada jadwal show. Jadi ia tidak mungkin datang.”

Aku ber-ohh ria. “Benar juga. Sungmin kan penyanyi. Suaranya sangat bagus~” gumamku tanpa sadar. Benar atau tidak, perasaanku mengatakan kalau aura disebelahku langsung berubah. “Jadi apa yang membawamu siang-siang begini pulang, hm? Harusnya kan kau kerja, yesung-ssi.”

Yesung mendengus aneh. “Ssi? Kau masih memanggilku dengan embel-embel ssi?” Tanyanya dengan suara tercekat. “kau pikir aku ini siapa?”

“Kau? Kau adalah yesung. Lalu kau mau aku memanggilmu apa?”

“Panggil aku sewajarnya orang yang sudah berkenalan lebih dari seminggu. Dan coba bedakan panggilan untuk orang yang sudah berkenalan selama berminggu-minggu dengan orang yang baru berkenalan selama satu hari.”

Aneh. Kenapa aku mendapatkan bau cemburu dalam nada suaranya?

“baiklah,” kataku pasrah. “Jadi apa yang membawamu untuk pulang kerumah siang-siang begini, yesung-ah?” Aku membuat suaraku sangat manis. Bisa kulihat ia menelan ludah susah payah.

Ia diam sejenak. “Aku mau makan siang. Temani aku.”

Aku mencibir. Beginikah namja ini mengajak seorang yeoja untuk makan bersama? “Andwae,”

“Wae?!” Suaranya menjurus kebentakkan.

“Aku tidak lapar.”

“Kau harus makan!” yesung berdiri lalu menarik tangan kananku sedikit kasar. “Setelah itu aku antarkan kau untuk terapi hari ini.”

Oh, ya. Terapi. Aku hampir lupa dengan hal itu. “Arra, arra.” Kutepis tangan yesung kasar. “Tapi tidak usah tarik-tarik! Aku tidak suka dikasari!”

Yesung terdiam. Cih. Kubalikkan tubuhku dan siap melangkah. “Tunggu disini. Aku mau ganti baju. Aku mau kita makan diluar.”

***

Yesung membawaku ke sebuah restoran yang sederhana. Hm. Untung saja ia membawaku ketempat seperti ini. Karena aku memang tidak berminat pada sesuatu yang mewah.

“Aku pesan ddukbokkie dan air mineral saja,” kataku sambil menutup buku menu.

“Hanya itu?” Yesung mengalihkan tatapannya dari buku menu. “Nanti kau lapar.”

Aku menggeleng. Aku memang tidak lapar. Aku meraih ponselku dari dalam tas. Mencoba menyibukkan diri dengan mengetikkan pesan pada Sungmin. Hanya pesan tidak penting yang menanyakan apakah ia sudah makan atau belum.

“Aku pesan bulgogi,” suara yesung terdengar berbicara dengan pelayan. “Dan capuccino.”

Tring~

Ponselku berbunyi. Pesan masuk dari sungmin.

“Sudah. Kau sudah makan?” Begitulah balasan dari sungmin. Aku tersenyum simpul. Cepat-cepat kuketikkan balasan.

“Belum. Tapi aku sudah pesan makanan. Bagaimana show-mu hari ini?” Aku kembali memasukkan ponselku kedalam tas.

“Kelihatanya kau sibuk sekali,” gumaman yesung terdengar jelas ditelingaku. Aku menengadah menatapnya.

“Ne?”

“Nampaknya kau sibuk sekali. Sedang bertukar pesan dengan siapa?” Tanyanya pelan.

Aku meraih ponselku yang berbunyi dari dalam tas. “Sungmin.” Jawabku singkat.

Aku membuka flat ponselku dan membaca pesan dari sungmin. “Cukup melelahkan. Aku jadi teringat dengan dakjuk buatanmu kemarin.”

Aku menyeringai. Aku juga mengakui kalau dakjuk buatanku kemarin memang enak. Pantas saja sungmin oppa ketagihan.

“Datanglah kerumah, oppa. Aku akan membuatkanmu dakjuk lezat seperti kemarin.” Itulah balasanku.

Kuletakkan ponselku diatas meja saat beberapa pelayan membawakan pesanan kami keatas meja. Woaah~ asap mengepul dan aroma lezat menguar dari makanan kami.

Aku sudah meraih sendokku ketika yesung berkata, “berapa nomor ponselmu?”

“Ne?” Sepertinya pendengaranku bermasalah.

Yesung mendengus. “Apa kau keberatan aku mempunyai nomor ponselmu?” Tanyanya sembari meraih sumpit. “Sungmin saja punya, kenapa aku tidak?” Aku mengulum bibirku tidak mengerti. “Aku tidak bisa menunggumu selesai terapi. Aku harus kembali kekantor. Jadi kalau kau sudah selesai, kau bisa menghubungiku.”

“Oh.” Aku mengangguk paham. Kusebutkan nomor ponselku pada yesung. Setelah itu, tidak ada lagi yang keluar dari mulut kami. Kami sibuk melahap makanan kami masing-masing sampai…

“Kau mau?” Yesung menyodorkan sepotong bulgogi panas dengan sumpitnya. Tanpa pikir panjang aku mengangguk.

Aku baru saja akan meletakkan sendokku keatas meja ketika yesung memasukkan potongan daging tersebut kemulutku. Ahh!! Panas!! Aku mengibas-ngibaskan tanganku kedepan mulut, berusaha mengusir rasa panas yang berkoar didalam mulutku.

“Minum! Minum!” Yesung memekik tertahan sambil menyodorkan botol mineralku. Cepat-cepat kuambil dan kuteguk dengan beringas.

Ketika potongan daging itu sukses melewati tenggorokanku, akhirnya aku bisa bernapas lega. “Kau mau membunuhku?!” Pekikku dengan mata melotot.

Yesung menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. “Mianhae.. Tadi aku lupa meniupnya.”

Cih! “Ppabo!” Desisku, lalu kembali melanjutkan makanku tanpa selera.

***

Sudah dua jam aku menunggu yesung dirumah sakit. Namun namja itu belum menampakkan diri untuk menjemputku. Aku sudah mengirimnya pesan berkali-kali, namun tidak ada balasannya. Aku sudah menghubunginya berkali-kali, namun tidak diangkatnya.

Huft~ apakah ia mencoba untuk mempermainkanku? Sudahlah, aku tidak perduli. Lebih baik aku pulang sendiri.

Aku melangkah keluar dari rumah sakit dan menelusuri jalanan yang terselebung dengan awan gelap. Cuaca memang tidak bersahabat. Angin kencang dan awan mendung menemaniku saat ini. Haa~ aku harus cepat-cepat sampai rumah kalau tidak mau kehujanan. Aku… takut dengan hujan.

Namun sepertinya harapanku tidak didengar oleh tuhan. Tahu-tahu saja rintik hujan mulai turun dan hal itu membuatku mempercepat langkahku. Tapi hujan semakin turun dengan lebat. Bajuku basah sudah. Tanganku yang baru diganti perban juga ikut basah. Yang kutahu, aku merasakan ketakutan yang luar biasa. Rintik hujan ini seperti panah-panah tajam yang menghujamku. Dan terakhir yang kuingat, ada seseorang yang menyelubungi tubuhku dengan jaket hangat dan membawaku masuk kedalam mobil.

Sungmin POV

Mataku tidak salah lihat, kan? Yeoja itu berlari dengan gelisah dibawah rintikan hujan yang cukup lebat. Saat mobilku melewatinya, mataku menangkap sosok hae ra. Benar, yeoja itu hae ra.

Refleks aku menghentikan laju mobilku dan tanpa pikir panjang, kulepas jaket tebal yang kugunakan dan turun dari mobil. Tubuh hae ra bergetar hebat saat kuselubungi tubuhnya dengan jaketku. Cepat-cepat kubawa ia kedalam mobil.

Tidak ada penolakan. Dan tidak ada untaian kata yang terucap didalam mobil. Yang kutahu, ia menangis dan dengan cepat kulajukan mobilku kerumahnya— rumah yesung.

Hae Ra lemas. Bahkan ia seperti mayat hidup yang tidak menggubrisku. Ia hanya diam dengan tubuh menggigil. Aku berpikir cepat. Tidak kuperdulikan tubuhku dan tubuhnya yang sudah basah terkena hujan, kuraihnya kedalam pelukanku dan kutuntun keluar dari mobil. Aku langsung membawanya masuk kedalam rumah. Tepatnya masuk kekamarnya.

Setelah kubaringkan tubuhnya dikasur, aku meraih ponselku dan menghubungi sebuah nomor. Tidak diangkat. Kuputuskan untuk mengirimnya pesan. Tetap tidak ada balasan. Aku menghela napas. Apakah saat ini yesung sangat sibuk?

“Eung~” Hae Ra mengerang pelan dan sesekali ia sesenggukan. Aku duduk ditepi ranjang dan mengelus poninya yang basah. “Oppa?” Gumamnya.

Aku tersenyum. “Bisakah kau berganti pakaian dulu? Kau bisa sakit kalau terus-terusan basah.”

Ia menghela napas. Lalu memejamkan matanya sejenak. “Baiklah,”

Aku menepuk kepalanya pelan lalu berjalan keluar kamar. Aku masuk kedalam kamar yesung dan mandi dikamar mandinya. Setelah itu, kuambil beberapa helai pakaian dilemarinya untuk kugunakan. Setelah itu, aku berniat kembali menghampiri hae ra ketika kudapati yesung berdiri didepanku tepat didepan pintu kamarnya sendiri.

napas yesung terengah-engah. Sangat kelihatan kalau ia lelah. “Hae ra.. Hah..hah..”

“Atur dulu napasmu,” kataku sambil menepuk punggungnya. Kulihat ia mulai mengatur napasnya. Setelah beberapa menit akhirnya ia kembali bernapas dengan normal.

“Hae ra mana?!” Tanyanya tak sabar.

“Ada dikamarnya,” jawabku enteng. Cepat-cepat ia meninggalkanku dan masuk kekamar hae ra. Aku mengikutinya dan kulihat yesung langsung meraih hae ra yang sedang duduk dimeja rias kedalam pelukannya.

Aku tersenyum simpul. Kulihat hae ra meronta dan setelah itu kejadian tak terduga terjadi.

Sepertinya aku sudah tidak dibutuhkan disini.

Hae Ra POV

Dua bulan belakangan hidupku sudah seperti drama. Itu semua berawal dari hari dimana yesung memelukku dan tentu saja aku meronta untuk memintanya melepaskan pelukannya. Namun semua terjadi begitu saja. Yesung membalikkan tubuhku dan langsung menempelkan bibirnya pada bibirku. Hanya menempelkan selama 5 detik dan itu membuatku blushing!

“Mianhae.. Aku takut kau kenapa-kenapa,” katanya lirih sambil menyentuh bibirku dengan ibu jarinya. Dielusnya pelan sambil tersenyum. “Pasti hyungku belum pernah menciummu,” lanjutnya sambil memelukku lagi.

Aku menunduk malu dan mengangguk pelan. “Kau yang pertama untukku.”

Setelah kejadian itu, aku dan yesung semakin canggung. Esoknya setelah kejadian itu, aku demam tinggi. Kurasa itu adalah efek terkena hujan. Huh. Hujan memang menyebalkan, bukan? Karena aku merasa canggung dengan yesung, aku meminta sungmin untuk mengantarkanku kerumah sakit. Dengan senang hati namja itu mau mengantarku.

Sepulangnya kami dari rumah sakit, sungmin memulangkanku kerumah dan ia pamit karena harus latihan vocal.

“Kenapa tidak minta tolong padaku?” Yesung menyambutku tidak ramah.

“Kupikir kau sibuk,” jawabku sambil meletakkan plastik yang diisi oleh obatku keatas meja makan. Aku berjalan kedapur, berniat membuat bubur.

“Sungmin lebih sibuk,” yesung berjalan kearahku. Diletakannya punggung tangannya kekeningku. “Badanmu masih panas. Istirahatlah dikamar. Biar aku yang memasakkanmu bubur.”

Saat itu aku menurut. Kupikir ia baik padaku karena itulah tugas seorang penjaga, kan? Lalu, ketika yesung berniat menyuapkanku bubur, untuk pertama kalinya kuakui senyumnya sangat manis.

“Ayo buka mulutmu,” yesung mengarahkan sendok penuh bubur kemulutku. Cepat-cepat kututup mulutku dengan kedua tanganku.

“Andwae,” suaraku teredam oleh tanganku. Ketika yesung kembali meletakkan sendok itu kemangkuk, kulepaskan bekapan tanganku sendiri dari mulutku. “Tiup dulu. Nanti kayak dulu lagi,” dengusku.

Yesung tersenyum simpul. Manis sekali. Setelah itu tidak ada lagi percakapan yang kami buat karena kami larut dalam pikiran kami masing-masing sembari yesung menyuapkanku bubur.

Haa~ banyak sekali peristiwa peristiwa tidak terduga yang kualami dua bulan belakangan. Salah satunya adalah lebih cepatnya tangan kiriku sembuh. Hari ini aku akan kembali kerumah sakit untuk terapi yang terakhir kalinya. Tangan kiriku saja sekarang sudah tidak diperban. Sudah bisa digerakkan dan tidak kebal lagi.

Tapi aku tidak tahu harus senang atau sedih. Entahlah. Aku dilema.

“Kau sudah siap?”

Suara yesung membuatku tersadar dari lamunan panjangku. Aku mengangguk lalu mengikutinya masuk kedalam mobil.

Semenjak kukatakan pada yesung kalau aku tidak menyukai keheningan, setiap saat namja itu selalu mengajakku ngobrol. Bahkan saat sungmin datang kerumah, namja itu tidak membuka kesempatan untukku berbicara dengan sungmin. Huft.

“Jadi bagaimana keadaan tanganmu?” Yesung bertanya dengan mata fokus dibalik setir.

Kugerakkan tangan kiriku didepan wajahnya. “Sudah lumayan.”

Kulihat perubahan wajah yesung yang aneh. “Lalu bagaimana dengan ryewook?”

Glek. Kutelan ludahku susah payah. Ryewook? Ada apa dengan ryewook? Bahkan belakangan ini aku tidak mengingatnya sama sekali. Aku sibuk dengan dunia baruku. “Aku sudah melepaskannya,” gumamku kecil.

Lagi-lagi aku melihat perubahan wajah yesung yang tidak kusuka. Dia terlihat kecewa dan sedih. Aneh. Tidak seperti biasanya. Kali ini ia hanya diam. Tidak ada percakapan lagi sampai aku selesai terapi dan dokter menyatakan bahwa tangan kiriku sudah sembuh total.

Yesung POV

Aku adalah orang paling munafik jika membiarkan Hae Ra pergi. Kulihat hae ra mengeluarkan koper hitamnya dari kamar lalu membawanya turun kelantai satu.

“Gomawo, yesung-ah~” ia membungkuk kecil didepanku. “Kau sudah menjagaku dengan baik. Pasti hyungmu senang disana.” Aku ingin melihat matanya, namun ia tidak memberiku kesempatan. Ia selalu mengalihkan pandangannya dariku.

“Kau mau kemana? Kenapa harus membawa koper?” Tanyaku sambil meraih tangannya dan menggenggamnya.

Ia menepis tanganku, namun aku semakin mempererat genggamanku ditangannya. “Tanganku sudah sembuh. Aku bisa melepaskan hyungmu. Lalu untuk apa aku disini?”

Aku tersenyum kecut. Kuelus pipinya lembut, lalu entah keberanian dari mana, kudekatkan wajahku kewajahnya dan kukecup bibirnya lembut. Ia tidak menolakku. Tapi bisa kurasakan ada air hangat yang mengalir dipipinya.

“Kalau kubilang kau tidak boleh pergi, bagaimana?” Tanyaku sambil menghapus air matanya. Ia menunduk.

“Untuk apa? Aku tidak mau merepotkanmu,” jawabnya lirih.

“Siapa yang bilang kalau kau merepotkanku?” Kataku sambil mengangkat dagunya, membuatnya kembali menatapku.

“Kau. Kau yang bilang kalau aku adalah yeoja cengeng yang merepotkanmu.”

“Persetan dengan itu semua!” Pekikku kesal lalu dengan sekali sentakan kutarik tangannya hingga ia masuk kedalam pelukanku. “Kau disini. Kau tidak boleh pergi.”

“Wae?” Suaranya tercekat. Ia kembali menangis.

“Karena ada hal yang kurasakan dan kau juga merasakan hal itu.”

Hae Ra POV

Aku munafik kalau aku tidak jujur bahwa aku sangat berat untuk pergi meninggalkan yesung. Aku bisa melepaskan ryewook, tapi sekarang aku tidak bisa meninggalkan yesung.

Hari ini ia kembali menciumku. Aku tidak menolak. Karena jauh dihatiku, aku menginginkan ini. Tanpa sadar aku menangis. Ia memelukku. Hangat dan nyaman. Setelah itu, yang kutahu aku sudah berada disebuah gereja. Aku tidak tahu apa maksud yesung membawaku kesini.

“Untuk apa kita kesini?” Tanyaku dengan semburat wajah bingung. Yesung tidak menjawab. Ia semakin mempererat genggaman ditanganku lalu mendudukanku dikursi panjang ditengah-tengah gereja.

“Tunggu disini.” Suruhnya, lalu melangkah menghampiri salah satu pastur yang ada.

Kulihat yesung dan sang pastur berbincang sebentar. Lalu, yesung menghampiri dua orang yang sedang berdoa. Meski bingung, aku tetap bergeming ditempat. Sampai akhirnyang menghampiriku dengan satu tangan terulur kearahku.

“Kita menikah sekarang.”

Yesung POV

Aku yakin, saat itu kalian pikir aku gila. Hahaha! Tentu saja. Aku sudah gila karena hae ra masih mengingat perkataanku waktu itu. Dulu kan aku memang tidak suka pada hae ra. Tapi lambat laun perasaan itu muncul. Yah, kalian tahu lah perasaan apa itu.

Aku orangnya tidak bisa romantis. Saat aku mengajaknya menikah waktu itu saja, hae ra menolakku mentah-mentah.

“Menikah?” Matanya melotot tidak percaya. Aku menyeringai saja waktu itu. “Andwae! Pernikahan macam apa ini?”

“Yah, memang mau bagaimana?” Tanyaku sambil menggaruk-garuk kepalaku yang tidak gatal.

Ia memutar bola matanya. “Aku mau pernikahan yang romantis. Tidak seperti ini.” Dengusnya.

Aku tersenyum simpul, lalu meraihnya kedalam pelukanku. “Aku ingin kita sah dulu. Aku janji setelah ini akan ada resepsi romantis untukmu.”

Setelah kukatakan seperti itu, hae ra akhirnya setuju untuk menikah denganku. Dengan pastur dan dua saksi pernikahan kami, akhirnya kami sah menjadi suami istri.

Sebagai janjiku padanya saat itu, aku benar-benar membuat resepsi pernikahan yang romantis. Kami melaksanakan resepsi di jeju island dan semua serba pink. Bunga mawar merah tersebar merata dan ia menyukai dekorasiku.

“Eung~” erangan kecil terdengar disampingku. Siapa lagi kalau bukan istriku tercinta?

“Kau sudah bangun, yeobo?” Tanyaku sambil mengelus pipinya lembut. Ia menatapku, lalu mendekatkan tubuhnya ketubuhku dan memelukku hangat. “Waeyo?”

“Anni~” katanya. “Saranghae, yesung-ssi.”

Aku tersenyum simpul. “Nado saranghae, chagia~”

“Oh ya, hari ini kita jadi kerumah sakit?” Tanyanya sambil menatapku. Aku tersenyum lalu mengecup kelopak matanya.

“Tentu. Aku tidak mau anakku diperutmu tidak dikontrol perkembangannya.”

“Baiklah, sepertinya aku harus mandi sekarang.” Ia melepaskan pelukannya dan bangkit dari tempat tidur. Belum sempat ia melangkah, aku sudah menahan tangannya dan menariknya hingga ia kembali terjatuh ketempat tidur.

“Morning kiss,” kataku. Ia tersenyum lalu mengecup pipiku.

“Ya!! Appa! Eomma! Apa yang kalian lakukan?!”

Oh, Kim min young. Anak pertamaku dengan Hae Ra. Anakku, kau menggangu appa dan eommamu ><

THE END

***

woaahhh~~~ akhirnya part 2 ini selesai juga >< aku ngejar waktu lho nyelesainnya u,u jangan lupa RCL ya readers ~~

One thought on “[FF] Look At Me Part 2 (END)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s