[FF] Our Love In Our Life Part 1

Title: Our Love In Our Life PART 1

Cast:

1. Yesung / Kim Jong Woon
2. Lee Hae Ra (OC)
3. Kim Jong Jin
4. Park Min Jung / Kim Min Jung (OC)
5. Kim Ki Young (OC)
6. Song Jung Seuk (OC)
7. Others

Author: Virniari / minpi

Genre: Romance

Cp: @virniari

Length: TwoShot

Catatan Author: NO PLAGIAT! NO BASHING! Don’t be silent rider  please RCL  saran kritikan dan pujian diterima dengan lapang dada  kalau ada kesamaan cerita, mungkin itu sebuah kebetulan

***

Yesung POV

Ku tatap sekali lagi pintu bercat cokelat dihadapanku. Sejak didalam pesawat tadi, aku sudah membayangkan bagaimana rupa keponakanku. Anak JongJin dengan Park Min Jung yang diberi nama Kim KiYoung. atau boleh kusebut Kim Min Jung?

Hm. Awalnya aku sedikit dongkol karena JongJin mendahuluiku. Ia lebih dulu menikah. Menyebalkan sekali, bukan?

“ehem~”

Aku berdeham kecil menghilangkan kegugupanku. Terakhir kali aku pulang kekorea adalah satu tahun yang lalu. Aku kuliah di New York. Dan kemarin aku baru saja menamatkan kuliahku, tanpa orang tua. Hm. Kedua orang tuaku sibuk. SANGAT SIBUK. haha~ apakah aku terlalu berlebihan? entahlah. aku rasa saat ini aku sangat gugup.

Tanganku terulur untuk memencet bel. Baru dua kali kupencet, bisa kudengar derap langkah tergesa dari dalam.

“annyeong~” Seorang yeoja muncul dibalik pintu. “mencari siapa?” tanyanya dengan sopan.

Aku mengernyit heran. “kau siapa?” tanyaku balik.

Yeoja didepanku meneguk ludah, lalu berkata dengan badan sedikit membungkuk, “e-em kau yesung? kau kim jong woon?”

“hm,” jawabku dengan anggukan. “kau siapa?” tanyaku lagi.

Yeoja itu mengulurkan tangannya padaku, lalu berkata, “Lee Hae Ra imnida.”

Aku menyambut uluran itu. Hanya seperkian detik, lalu kembali kulepaskan. “kenapa kau ada disini?”

“e-eh lebih baik kau masuk dulu, yesung-ssi.” katanya sambil berjalan mundur dan memberiku jalan leluasa untuk masuk kedalam rumahku–orang tuaku.

Aku mengedikkan bahu sesaat. Setelah itu, kutarik koper hitam besarku masuk kedalam rumah. Kuedarkan pandanganku kesekitar ruangan. Senyum sinis muncul diwajahku. Semua masih sama. Masih tertata rapinya barang-barang mewah. Dan masih sepi.

“JongJin mana?” tanyaku sembari duduk disofa. Aku benar-benar lelah.

“e-em, ia pergi dengan Min Jung dan KiYoung.” jawabnya sambil menunduk. Setelah itu keadaan hening sesaat. Mungkin yeoja bernama Hae Ra itu sudah bosan dengan keadaan seperti ini, ia mulai berbalik badan dan bersiap melangkah pergi.

“buatkan aku minum,” kataku sambil menyentuh leherku sedetik sebelum Hae Ra benar-benar melangkah.

“ne?” Hae Ra kembali berbalik ketika mendengar suaraku tadi.

“wae? jangan malas, bodoh. Disini kau tidak dibayar murah,”

kudengan yeoja itu tertawa sinis. “kau pikir disini aku berkerja?” tanyanya dengan suara sehalus jarum dan sangat menusuk telinga. “kau pikir aku akan melakukannya untukmu?”

“apa maksudmu?” aku bangkit dari dudukku dan memberikan tatapan meremehkan. aku sedikit kesal melihat pekerja rumah didepanku ini sangat tidak sopan.

Hae Ra menaikkan sudut bibirnya, lalu berkata pelan. Sangat pelan. “Saat waktunya tiba, kau yang akan kusuruh bekerja untukku, bukan sebaliknya.”

Setelah mengatakan itu, Hae Ra kembali berbalik dan melangkah meninggalkanku yang melongo dengan suksesnya. Aish! belum satu jam aku disini, aku sudah dibuat naik darah!

huh~ ku tarik napas dalam-dalam, lalu kuhembuskan perlahan. huh~ memang lebih lega jika saat emosi melakukan hal seperti ini. Tapi sedetik kemudian aku baru sadar kalau dirumah ini hanya ada aku dan Hae Ra. cih. pasti appa dan eomma sibuk bekerja. sedangkan adikku, istrinya dan anaknya sedang jalan-jalan. Bukankah ini menyebalkan? Tadinya kupikir aku bisa membuat kejutan untuk mereka. Dan coba tebak apa yang kudapat? Aku malah mendapatkan pekerja rumah tidak sopan berwajah malaikat.

Hae Ra POV

Aku tahu ia memandang remeh diriku. menyebalkan.

“Saat waktunya tiba, kau yang akan kusuruh bekerja untukku, bukan sebaliknya.” kataku lalu berbalik dan berjalan meninggalkannya.

Aku berusaha mati-matian tidak meninjunya saat itu juga. Apa tadi ia bilang? ia pikir aku pembantu? sialan. Aku begitu cantik seperti ini dikira pembantu?!

Aish! menyebalkan sekali. kuseret kaki ini agar bisa melangkah lebih cepat kekamarku. Dengan emosi yang sudah memuncak, ku tutup pintu kamarku dengan kasar. samar-samar aku bisa mendengar namja sialan tadi meneriakki-ku.

“dimana aku taruh kertas itu ya?” tanyaku pada diri sendiri.

Aku berjalan menghampiri meja nakasku disamping tempat tidur dan membuka lacinya. senyuman licik tiba-tiba tercetak jelas diwajahku. kertas ini. aku bisa balik menjatuhkan harga dirinya hanya kertas ini. Aku kembali berjalan keluar kamar dan mendapati yesung yang sedang berdiri didekat lemari pendingin sambil meneguk air es.

“yesung-ssi,” panggilku.

Sepertinya ia mengira aku hantu disiang bolong, karena sedetik setelah kusebut namanya, ia terbatuk-batuk sambil menepuk-nepuk dadanya. ia tersedak.

“ya!” serunya dengan mata melotot. “apa-apaan kau mengagetkanku seperti ini, hah?!” serunya lagi dengan tangan berkacak pinggang.

Aku mendengus pelan. “aku tidak mengagetkanmu,” ralatku. “jantungmu saja yang tidak baik.” kataku sambil berjalan dan duduk dikursi meja makan. “kemari kau,” suruhku dengan telunjuk.

“kau pikir kau siapa bisa menyuruh-nyuruhku, hm?” tanyanya dengan dagu terangkat tinggi.

aku mencibir. namja ini sungguh ingin kutendang. “lebih baik kau cepat duduk disini agar kau tidak terlalu lama menganggapku pekerja disini,”

Aku tahu ia mengumpatku. Aku hanya diam dan membalas umpatannya dalam hati. Aku sedang tidak ingin berargumen. Dengan langkah sepelan siput, ia duduk didepanku. dengan tangan bersedekap di dada, ia menatapku dengan mata sipitnya.

“lalu, setelah aku duduk manis didepanmu seperti ini, kau mau apa?” tanyanya sinis.

cih. aku menaikkan sudut bibirku keatas, membentuk satu senyuman mengejek. kuangsurkan kertas yang tadi kuambil dikamar kearahnya. Ia melirik kertas itu sesaat, lalu kembali menatapku.

“baca,” perintahku. “jangan tatap aku seperti itu,” lanjutku lagi.

Yesung memutar bola matanya, lalu meraih kertas itu dan membacanya. Aku ikut menyilangkan tanganku didepan dada, berusaha membayangkan reaksi seperti apa yang akan yesung tunjukkan.

“MWO?!” pekiknya dengan mata melotot hampir keluar, mulut terbuka lebar, tangan kanan meremas kertas itu kesal, dan tangan kirinya mengepal. sialnya, tatapan mata yesung yang tadinya sipit dan kini tengah terbuka lebar kearahku seperti menyalahkanku mengenai isi kertas itu.

sial. ini semua bukan mauku. haruskah kubilang kalau ini salahnya sendiri?

Author POV

Flashback on

Namja itu berjalan sempoyongan keluar dari D’Bars Cafe. Tadinya ada dua temannya yang lain, namun sepertinya kedua orang itu sudah pulang lebih dulu dan membiarkan namja bernama yesung itu meminum lebih dari 3 botol soju.

Sangat terlihat kalau namja itu mabuk. Dengan mata setengah tertutup, yesung mengarahkan langkahnya kemobil yang diparkir disamping pohon besar dan membuka pintu mobil.

Dengan bau alkohol yang menyeruak keluar dari mulutnya, namja itu menghidupkan mesin mobilnya dan mulai menelusuri jalan malam yang sepi. Untung saja jarum jam sudah menunjukkan pukul 1 malam dan itu artinya hanya akan ada jalanan sepi yang ia temui.

Tidak seperti cerita lainnya, yesung sama sekali tidak kecelakaan. Tadi ia hanya nyaris menabrak nenek-nenek yang sedang bermesraan dengan kakek-kakek. Sepertinya pasangan itu sedang mengingat masa muda mereka dulu. Namun penglihatan itulah yang membuat yesung semakin keki.

Dua hari yang lalu ia ditelepon dari korea untuk segera pulang karena JongJin, adiknya, akan segera menikah.

What the h….?!

Yesung yang kakaknya saja belum ada niatan sama sekali untuk menikah. Bahkan mempunyai calon saja tidak. Yesung tidak pernah berpikir untuk menikah, kecuali belajar. Namja itu pikir, pernikahan hanyalah hal yang akan membuatnya terikat dan tidak bisa bebas.

Namun ia ingat perkataan JongJin sepuluh tahun yang lalu, “hanya seorang kakak pecundang jika adiknya duluan yang menikah.”

Ahh! Shit damn haha!

Yesung ingat kata-kata JongJing saat itu dan kini yesung ingin meledak.

“Baru pulang?”

Suara JongJin menyambut kedatangan yesung diruang tamu.
“Ne~ kau belum tidur?” Tanya yesung dengan suara tercekat. Bau alkohol yang menyengat keluar dari mulutnya.

“Aniyo~ aku menunggu kakakku yang pecundang.” Jawabnya dengan seringaian lebar.

yesung menyipitkan matanya yang sudah sipit, lalu berjalan kearah JongJin dan meninju main-main lengan JongJin.

“benar, kan? Aku yang akan menikah duluan.” kata JongJin dengan tangan bersedekap.

“Tapi aku tidak pecundang.” Gumam yesung. “Aku akan segera menyusulmu.”

“Akan segera menyusul? Kau yakin?” Tanya JongJin dengan alis terangkat.

“Ne.” Jawab yesung pasti. “Aku sudah ada calonnya.”

***

“Eommaa!!!”

“Wae?”

“Aku mau menikah!”

“Ne?!”

“Huaaa eommaaa!!! Aku mau menikah!!!!”

“Kau ini kenapa woonie? Kau aneh!”

“Aish! Eomma! Eomma selalu sibuk dengan pekerjaan eomma dan mengabaikan anak pertamamu ini!”

“Kau ini ngomong apa woonie? Eomma tidak mengerti.”

“Aku mau menikah eomma! Masa aku kalah sama JongJin?!”

“Kau pikir menikah adalah hal untuk main-main?! Makanya kau cari calonnya, jangan hanya belajar-belajar dan belajar!”

“Ahhh eomma! Aku tidak tahu yeoja seperti apa yang baik untukku T.T”

“Jadi kau mau eomma mencarikannya untukmu?”

“Nee~”

“Tsk. Kau aneh, woonie.”

“Wae?”

“Tidak pernah ada orang yang ingin dicarikan jodoh oleh orang tuanya. Kau memang aneh, yesung-ssi.”

Flashback end

Yesung POV

Sial. Yeoja didepanku ini dengan santainya menceritakan kebodohanku yang sudah hampir kulupakan setahun yang lalu. Saat itu aku hanya kesal karena dianggap pecundang oleh JongJin karena adikku itu yang akan menikah duluan. Dan saat aku bilang pada eomma-ku aku ingin menikah, aku yakin dengan sangat kalau itu terucap begitu saja karena efek alkohol yang kuminum.

Tidak kusangka kalau omonganku pada eomma saat itu benar-benar didengar olehnya.

Dan, kau tahu apa yang membuatku ingin bunuh diri saat ini juga? Ahh! Yeoja didepanku inilah yang akan menikah denganku. Ya! Lee Hae Ra didepanku inilah yang akan dinikahkan denganku!

Omonaaa T.T

“Sudah selesai kagetnya?” Tanya hae ra sambil mencibir.

Kualihkan pandanganku kearahnya dan menatapnya tajam sebisaku.

“Kau tidak usah berlebihan,” katanya dengan tangan yang melambai didepan wajahku. “Kita tidak akan menikah karena itu adalah hal bodoh dan aku akan merasa sangat bodoh jika menikah denganmu.” Lanjutnya.

Aku membuka mulutku, bersiap membalas omongannya. Namun hae ra lebih dulu mengangsurkan pen kearahku.

“Tanda tangan disitu,” perintahnya sambil menunjuk kolom dibagian kanan bawah kertas.

“Untuk apa?” Tanyaku meminta penjelasan.

“Makanya kalau kusuruh baca, ya dibaca!” Katanya dengan penekanan diseluruh kata.

Cih. Kenapa sekarang aku yang disuruh-suruh?!

Kuteliti tulisan kecil itu dengan seksama. Intinya, kertas itu adalah perjanjian kalau aku harus membantunya untuk membatalkan pernikahan yang sialnya aku yang minta.

“Jadi aku harus tanda tangan disini?” Tanyaku sambil menunjuk kolom yang hae ra tunjuk tadi.

Yeoja itu mengangguk. Aku mengedikkan bahu lalu sejurus kemudian kucoretkan tinta penku membuat rangkaian tanda tangan.

“Baiklah namja tidak laku,” katanya sambil meraih kembali kertas tadi. “Aku masih tidak percaya kalau ada namja sepertimu. Apakah saking tidak lakunya kau harus minta dicarikan jodoh oleh eomma-mu? Dan sialnya kenapa harus aku?!”

Hae ra bangkit dan meninggalkanku yang sudah ingin meledak.

“Yakk!” Seruku dengan suara melengking. “Yeoja sialan!”

***

Hari ini Hae Ra menyuruhku untuk ikut dengannya menemui seseorang. Awalnya aku menolak mentah-mentah, namun sedetik kemudian ia meraung-raung lalu menjambak-jambak rambutku.

Aish. Aku tidak bisa bayangkan jika aku harus menikah dengannya, sungguh.

“Jadi kau mau bawa aku kemana, hae ra-ssi?” Tanyaku saat sudah dimobil berdua dengannya.

Kali ini hae ra yang menyetir dan aku membiarkannya. Ia mengendarai dengan wajar tanpa cela.

“Bisakah kau diam? Aku mau konsentrasi menyetir.” Jawabnya dengan mata fokus pada jalanan.

Aku mendengus lalu membuang muka kesamping. Kusilangkan kedua tanganku didepan dada, membiarkan lagu yang diputar ditape menemani keheningan kami.

Beberapa saat kemudian, mobil yang disetir hae ra berhenti tepat didepan cafe T’L. Ia turun dari mobil dan menyuruhku mengikutinya. Dengan langkah pasti ia berjalan didepanku, membuatku terlihat seperti supirnya.

“Heh, yeoja bodoh,” panggilku dengan tangan menahan lengannya. “Untuk apa kesini?” Tanyaku dengan kening berkerut.

Ia menepis tanganku dan meneliti cafe ini dengan seksama. Setelah beberapa detik, ia tersenyum tiga jari.

“Kajja!” Ia menarik tanganku dan membawaku kesatu meja paling pojok dan ditempati seorang namja yang telinganya tersumpal headphone.

Dengan perasaan bingung, aku mengikuti permainan hae ra dan duduk didepan namja itu sesampainya dimeja.

“Annyeong, oppa~” sapa hae ra pada namja itu dengan cerianya.

Cih. Bahkan yeoja ini tidak pernah berbicara dengan nada imut seperti itu padaku.

Namja didepanku melepaskan headphonenya dan tersenyum pada hae ra. Lalu namja itu mengalihkan pandangannya padaku. Namja itu menatapku seperti… Kaget? Dan… Terperangah?

“Nuguya?” Tanyanya dengan senyuman yang tidak bisa ditutupinya.

“E-eh,” aku salah tingkah. “Annyeong haseyo. Yesung imnida.” Kataku sedikit membungkuk.

Namja itu semakin melebarkan senyumannya. “Jung Seuk imnida.” Namja bernama JungSeuk itu juga ikut membungkuk.

Setelah perkenalan singkat itu, aku bagai obat nyamuk yang siap dibuang kapan saja. Aku diabaikan dengan sempurna. Bahkan hae ra yang membawaku kesini tidak ada berbicara padaku kecuali saat bertanya ingin makan dan minum apa tadi.

Sial. Aku benar-benar tidak dibutuhkan disini. Aku sudah akan bangkit berdiri ketika dengan tidak sengaja bertemu pandang dengan JungSeuk. Dan, benar atau tidak, aku melihat namja itu menatapku dengan tatapan lain. Tatapan tidak normal antara namja dan namja.

Hae Ra POV

Aku melambaikan tangan pada Jung Seuk oppa. Hihi~ dia adalah namja yang kusuka. Ia sangat baik dan perhatian padaku. Itulah yang membuatku ingin membunuh yesung saat eommanya mendatangiku 3 bulan yang lalu.

Saat itu aku sedang menyelesaikan lembur di perusahaan eomma yesung. Dan entah apa yang membuat eomma yesung itu mengatakan bahwa aku akan menikah dengan anaknya.

Sungguh, saat itu aku ingin menolaknya. Namun ia mengancamku akan memecatku dari perusahaan.

Hah. Aku tahu itu adalah kelemahanku. Aku bukan orang kaya yang akan tetap mendapatkan uang tanpa bekerja. Aku tetap harus bekerja diperusahaan eomma yesung tanpa menikah dengan yesung.

Ahhhh! Tuhan, kenapa hidupku kau permainkan?><

“Jadi apa maksudmu membawaku kesini, hah?”

Suara yesung membuyarkan lamunanku. Aku menoleh menatapnya dan mengedikkan bahu. “Mau memperkenalkan calon suamiku yang sesungguhnya.” Jawabku.

Yesung tertawa mengejek, lalu berkata, “apakah dia bodoh hingga mau menikah denganmu?” Tanyanya kurang ajar.

“Tapi aku lebih baik dari pada harus meminta dicarikan jodoh oleh eomma-ku.” balasku dan membuat namja disampingku terdiam. Aku terkekeh geli. Memang menyenangkan bisa mengalahkan namja ini. “Nah, yesung-ssi. kau sudah tahu kan alasanku tidak ingin menikah denganmu?” Tanyaku dengan seringaian mengejek.

Yesung mengedikkan bahu dengan bibir mengerucut. “Bukan hal penting untuk aku ketahui,” katanya. “kau bilang namja itu calon suamimu?”

“Ne. Wae?” Tanyaku dengan dada membusung.

Yesung terkekeh pelan, mengejek lebih tepatnya. “Yang benar saja. Memang kapan kalian akan menikah?”

Aku tertegun mendengar pertanyaannya. Sebenarnya aku belum pasti akan menikah dengan JungSeuk oppa, tapi aku akan berusaha menyatakan perasaanku padanya. Huft. Aku yakin aku bisa menikah dengan JungSeuk oppa, bukan namja disampingku ini.

“2 bulan lagi.”

TBC

One thought on “[FF] Our Love In Our Life Part 1

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s