[FF] Kiss The Rain Part 3

Judul               : Kiss The Rain
Author           : min SJ ( @firdaa_ningrum )
Type                 : Part 3
Genre              : Sad Romance, No Yadong!
PG                      : (13+)
Tokoh             : Kim Ryeowook ( Ryeowook ), Jung So Hee ( Sohee ), Jung Soo Hee ( Soohee )

Annyeonghaseyo chingudeul! Ini adalah salah satu Fan Fiction yang murni dari kerja keras otak sendiri. No Bashing, No Copas ya! Eh, satu lagi. Don’t be silent reader ya! Komentar kalian benar-benar kutunggu untuk bahan evaluasi di Fan Fiction selanjutnya. Mianhae kalo ceritanya jelek. Kamsa^^

Author Message : Huah, akhirnya Part 3 keposting juga. Maaf ya yang udah nunggu lamaaa banget part ini :( Endingnya kubuat di Part 4, soalnya udah nyentuh halaman 23 belum selesai masa:/ Ah pokoknya enjoy reading chingudeul^^ Komentarnya kutunggu loh, kalo nggak mimin ngambek nggak mau cantik lagi (?)

[ Author Pov ]

4 Tahun Kemudian

Soohee keluar dari kamarnya sambil menenteng map putih yang berisi latihan soal bejibun yang selama ini diberikan oleh dosennya. Dengan tangan gemetar, ia berusaha mengunci pintu kamarnya yang mulai keras kepala, “Ayolah, pintuku… Aku belum pernah bertindak jahat padamu”ucap Soohee bermonolog pada pintu putih kekar yang ada didepan wajahnya. CEKLEK. Akhirnya pintu pun berhasil dikunci dengan perjuangan ekstra.

Diatas meja makan sudah tersedia aneka makanan ringan untuk sarapan, seperti roti bakar, salad, susu, dan teman senasibnya. Sedangan kursinya sudah terisikan oleh eomma-nya, appa-nya, nunna-nya dan tentu saja Ryeowook yang sudah resmi menjadi namja chingu nunna-nya sejak 3 tahun 5 bulan yang lalu. Soohee tak sanggup menatap kearah mata namja itu. Bagaimana pun juga, tatapannya terus menerus membuat dadanya bergetar dan kantung air matanya turun. Ia hanya berusaha memotong roti raksasa yang terasa susah untuk dipotong.

“Soohee-ah, kau kenapa? Kenapa murung begitu?”ucap Ryeowook sambil menatap Soohee yang tak berani menatapnya.

“Haha, Ryeowook-ah. Sebenarnya siapakah yeoja chingumu sebenarnya? Sohee atau Soohee? Kenapa kau jauh lebih memperhatikan Soohee ketimbang Sohee”ucap appa sambil tertawa keras diikuti dengan tawa eomma yang mulai membahana. Sedangkan Sohee hanya merengut dan menatap Soohee dengan tatapan kecut.

“Ani, aku tidak murung”jawabku telat sambil menatap Ryeowook. Namja itu juga menatap Soohee, namun tidak pada matanya. Ia hanya menatap poninya. Mungkin ia sudah menyadari perubahan hawa gadis yang duduk disebelahnya.

Like I loved you when
You can’t even look me straight in my eyes

Soohee yang merasakan hal tersebut langsung berusaha secepat kilat menghabiskan sarapannya dan segera lenyap dari padangan dua orang yang duduk mesra didepannnya ini. “Aku sudah selesai. Aku berangkat dulu ya appa, eomma”ucap Soohee sambil mengemasi mapnya yang sialnya jatuh berputar kedekat kaki Ryeowook.

“Kau pasti mau mengambil ini kan?”ucap Ryeowook sambil mengacungkan map putih Soohee setinggi kepalanya.

Tanpa banyak bicara, Soohee segera mengambil map itu dan segera pergi. Namun ia tetap menyempatkan diri berbisik “Gamsahamnida” setelah menyambar map miliknya. Setelah mobilnya melewati pos satpam, barulah ia menyetir sambil bercucuran air mata. Air mata kepedihan yang sedari tadi berusaha ia tahan akhirnya kini jatuh juga. Kini ia semakin terlihat lemah, tak berdaya, dan kalimat apapun yang sanggup menggambarkan kepayahannya ini.

“Ppaboya, kenapa aku masih saja menangis?”ucap Soohee sambil mengerem mendadak mobilnya gara-gara tak melihat lampu merah.

Ya, ia tau apa jawaban yang cocok untuk tingkahnya saat ini. Pertama, ia sudah terlanjur mencintai Ryeowook, bukan menyukai lagi. Kedua, ia masih menyayangi Ryeowook hingga detik ini. Dan ketiga, ia merasa kesepian…

I’ve never felt this way
To be so in love
To have someone there
Yet feel so alone

***

            Sohee berjalan menyusuri bangku-bangku kelasnya dengan muka masam dan melempar tas putihnya sembarangan. Ia masih merasa kesal pada perhatian Ryeowook yang terlalu berlebih pada kembarannya itu. Bagaimanapun juga, ia tetaplah yeoja yang akan cemburu setengah mati jika namja chingunya menaruh perhatian berlebih pada yeoja lain, meskipun itu saudaranya sendiri.

“Uuu… Putri Joseon kenapa merengut begitu?”goda Ji Hyeon seraya menutup novel setebal ganjalan pintu yang sedari tadi ia bawa.

Sohee terus merengut dan menatap dalam-dalam mata sahabatnya itu. Berharap ia akan diam dan segera mengerti simbol isyarat dari tatapan matanya. Naasnya gadis itu malah menarik nafas lagi dan mencoba untuk bertanya. “Diamlah dulu”ucap Sohee sambil melekatkan telunjuknya pada bibir Ji Hyeon yang kini maju setengah senti.

“Aku mengerti apa maksudmu”ucap Ji Hyeon dengan nada kumur-kumur karena bibirnya masih disegel oleh telunjuk Sohee.

“Berusahalah untuk mengontrol emosimu, Sohee-ah. Emosi tidak menyelesaikan masalah”ucap Ji Hyeon sambil membuka novelnya lagi dan tenggelam didalamnya.

Sohee hanya diam saja dan terus menatap sahabatnya yang kini sudah sibuk menatap novel, “Gomawo Ji Hyeon-ah. Kau rem-ku saat di turunan tajam”ucap Sohee sambil menarik Ji Hyeon kedalam pelukannya. Yang dipeluk sendiri hanya tersenyum dan membalas pelukan itu sama hangatnya.

***

Soohee kini terbaring diatas tempat tidur bersprei putih polos yang ada di ruang kesehatan. Ia merupakan salah satu hobae korban praktek Co-As seorang sunbae yang sejak dulu menyukainya. Siapa lagi jika bukan Cho Kyuhyun? Namja itu memang manis, sangat baik malah. Namun hatinya belum memberi izin untuk membiarkannya masuk selain Kim Ryeowook.

“Duduklah Soohee-ah, ada yang mau kubicarakan denganmu”ucap Kyuhyun sambil mengalungkan stetoskopnya di leher putihnya dan menarikkan sebuah kursi dihadapannya.

“Bicara tentang apa oppa? Tiap hari aku hanya punya waktu izin 1 jam dari kelas dosen botak itu”ucap Soohee sambil menuruti kata-kata namja itu.

“Apa yang selama ini kau rasakan?”tanya Kyuhyun tiba-tiba dan langsung membawa hawa ambigu pada Soohee.

“Rasakan? Merasakan apa?”

“Kesehatanmu. Apa kau sering merasa tiba-tiba lemas, pusing dan betismu membengkak tanpa sebab?”tanya Kyuhyun lagi.

Soohee terdiam dan menunduk lesu, ia tahu dari hawa ucapan Kyuhyun barusan membawa gelombang negatif yangbisa ia rasakan “Ne, memangnya apa yang terjadi padaku oppa?”tanya Soohee perlahan.

“Pernah dengar gagal ginjal?”

Soohee pelan-pelan bungkam dan terus menatap Kyuhyun, lalu ambil suara dan menjawab dengan lugu, “Pernah, barusan ini kudengar. Karena dalam drama belum ada yang membahas penyakit itu.”

“Pikiranmu ini, drama saja. Kau berharap tiba-tiba hidupmu sepahit atau seindah drama?”ucap Kyuhyun sambil bergurau namun detik berikutnya kembali serius.

“Jika kau mengidap penyakit itu bagaimana?”tanya Kyuhyun tiba-tiba yang nyaris membuat jantung Soohee melompat.

“Isshh, oppa ini membuatku kaget saja”ucap Soohee sambil membalikkan kalender yang ada diatas meja dan membuat Kyuhyun mengeluarkan evil smirkmematikannya.

“Bagaimana ya? Yah, menjalani hidup apa adanya dan menghitung berapa lama lagi aku di dunia.” Kyuhyun hanya terdiam dan terlihat mengepal erat jas putihnya.

“Seputus asa itukah?”tanya Kyuhyun dengan suara bergetar. Soohee sendiri menjadi bertanya-tanya dengan ucapan Kyuhyun barusan. “Maksud oppa?.”

“Kau bertanya pada rumah sakit saja, Soohee-ah. Aku tak tega mengatakannya. Baiklah aku permisi dulu”ucap Kyuhyun buru-buru melesat pergi dari ruang kesehatan dan meninggalkan Soohee yang masih tak mengerti. Aku gagal ginjal? Apa mungkin? Batin Soohee sambil mengangkat tasnya dan pergi berlalu meninggalkan ruang kesehatan.

[ Ryeowook Pov ]

Sore menjelang malam, aku pulang dengan lesu. Bagaimana tidak? Sohee sejak tadi pagi menolak bicara denganku, menghindariku tiap berpapasan, menolak telponku, bahkan tak membalas pesan singkatku. “Arrgghh, Jung Sohee!! Kau yeoja aneh yang bisa membuatku terlihat ppabo!”geramku kesal sambil mengemudikan mobil kearah jalan tol.

Sesaat kulihat sebuah toko bunga yang tak begitu ramai dipinggir jalan. Iseng-iseng kubelokkan mobilku kearah sana, bermaksud membelikan Sohee beberapa tangkai Lili Putih. Saking cintanya pada Lili Putih, aku pernah mengantarkannya pulang lagi gara-gara ia lupa memberi air pada Lili-nya yang ada didalam vas bunga. Aku tak sanggup membayangkan bagaimana nasibku nanti jika aku sudah menikah dengannya. Bisa-bisa aku dan anakku ditelantarkan olehnya hanya BEBERAPA TANGKAI LILI PUTIH.

“Annyeonghasimika. Ada yang bisa kubantu tuan?”tanya penjaga toko bunga itu dengan ramah.

Aku menyambutnya dengan sebuah senyuman dan berkata, “Tolong 6 tangkai Lili Putih.” Penjaga toko itu segera mengangguk dan lenyap dibalik beberapa jajaran vas bunga beraneka bentuk.

“Kukira jam segini tidak ada yang mau beli bunga lagi karena sudah tidak sesegar saat pagi”ucap penjaga toko yang bernama Kim Min Jung itu. Aku tahu karena membaca papan namanya yang melekat diatas celemeknya.

“Aku mau kerumah yeoja chinguku. Tampaknya ia marah padaku sejak tadi pagi”curhatku pada penjaga toko itu. Dengan cekatan ia sudah membungkus rapi 6 tangkai Lili Putih pesananku.

“Anda namja yang benar-benar perhatian. Betapa beruntungnya yeoja chingumu bisa memiliki seorang namja seperti anda. Meskipun keliling Korea, aku belum tentu bisa menemukan namja jiplakanmu”gurau penjaga toko panjang lebar. Mau tak mau aku ikut tertawa mendengarnya.

“Haha, gamsahamnida. Kembaliannya untukmu saja”ucapku sambil menyodorkan dua lembar uang 20.000 won ke meja kasir. Tanpa bla bli blu lagi, aku langsung mengemudikan mobilku menuju sebuah restoran tempatku janjian dengannya. Semoga ia tidak marah lagi setelah kuberi bunga kesukaannya dan ‘kejutan’ spesial untuknya.

***

            Kuhisap kopi yang sejak 10 menit lalu menganggur dihadapanku. Gadis itu belum kunjung menampakkan batang hidungnya. Apa ia masih marah padaku? Batinku dalam hati. “Mianhae Woppa, aku baru saja selesai pemotretan”ucap seorang gadis yang tiba-tiba meletakkan tas putihnya keatas meja. Reflek, aku langsung berusaha menyelamatkan kopiku yang tadi duduk manis diatas meja.

“Kau ini, untung saja kopiku tidak tumpah.. Eh iya, ini aku punya sesuatu”ucapku sambil menyodorkan rangkaian 6 tangkai Lili Putih yang dibungkus rapi dengan kertas krep putih dan pita silver berkilau diatasnya.

“Woppa tau saja jika Lili Putih dikamarku sudah layu”ucap Sohee sambil menerima rangkaian bunga itu malu-malu.

Aku menoleh kekiri dan kekanan. Mana tahu ada orang lain yang mau berkunjung di lantai 3 kafe ini. Setelah memastikan keadaan benar-benar aman, kurogoh benda yang sejak tadi terdiam didalam kantong jaketku. “Sohee-ah, tatap aku”ucapku sambil bersiap bangkit dari tempat dudukku. Tanpa banyak bicara lagi, aku langsung berlutut dan menyodorkan kotak tadi dalam keadaan terbuka.

“Will you be mine, forever?,” Sohee tercengang, aku pun terdiam. Entah apa yang ia rasakan saat ini, yang jelas aku merasa grogi.

“Jinjayo?”tanyanya dengan mata berkaca-kaca. Aku hanya manggut-manggut karena tenggorokanku sudah terasa gatal dan tak sanggup untuk bicara.

Bukannya menjawab, ia malah menangis dan memelukku dengan ganas. Aku sempat mendengar ia berbisik “Ne” tepat ditelinga kananku. Kami hanya terdiam untuk beberapa saat hingga seorang pelayan mengantarkan pancake pesananku. Ah, ia merusak suasana saja..

[ Author Pov ]

Soohee berjalan gontai menyusuri jalanan bersuhu negatif, kepalanya masih terisi tentang pernyataan dokter tentang hasil tes darahnya. Tangan kanannya masih saja meremas kertas itu hingga basah. Apalagi pernyataan nunna-nya seminggu lalu benar-benar sukses membuatnya syok total.

Pandangannya mulai nanar karena tertutup air mata. Tubuhnya mulai kelelahan karena berjalan jauh. Larangan dokter untuk tidak terlalu capek sama sekali tidak mau ia dengarkan. Sesekali ia berhenti memeluk tiang yang ada disampingnya seraya memegang bagian pinggangnya yang terasa sakit. Namun ia terus memaksakan diri untuk berjalan sampai rumah, hingga akhirnya ia benar-benar ambruk dan sekilas melihat bayangan seorang namja. Detik berikutnya pandangannya sudah lenyap dan ia tak sadarkan diri.

***

Ryeowook berjalan sendirian ditengah suhu ganas kota Seoul. Ia memang sengaja tidak ingin mengajak Sohee. Ia ingin mengambil udara malam di musim dingin yang terasa segar. Sekalian ia ingin berkunjung ke kedai minuman milik sunbae-nya, Yesung yang belum lama ini dibuka untuk umum.

Pandangannya berhenti ketika melihat seorang yeoja yang sedang memegangi tiang baliho kecil milik sebuah butik. Tiba-tiba pikirannya tertuju pada Sohee. Terakhir ia bertemu dengan yeoja itu 4 hari yang lalu. Kesibukannya mempersiapkan wisuda membuat waktu untuk bersama semakin sedikit. Semenit kemudian, yeoja itu berjalan lagi dan BRUK, tubuhnya langsung terhempas diatas aspal karena salju belum mulai turun.

Ia langsung berlari dan menghampiri yeoja yang pingsan itu. “Sohee-ah, Sohee-ah, bangunlah. Ini aku, Ryeowook”ucapnya sambil menepuk-nepuk pipi yeoja yang ada dipangkuannya yang tak kunjung sadar juga. Dengan susah payah, Ryeowook menggendong gadis setinggi 167 sentimeter itu diatas punggungnya dan segera berlari menuju rumah sakit.

[ Soohee Pov ]

Meski terasa berat, kucoba untuk membuka kelopak mataku hingga aku menangkap sebuah bayangan. Bayangan yang kian lama kian nyata. Bayangan yang membuat dadaku berdetak tidak karuwan. “Ryeowook-ah?”tanyaku pada namja yang kini tertidur pulas sambil menggenggam erat tangan kiriku yang tidak di infus.

“Sohee-ah, kau sudah bangun?”tanyanya padaku yang tak kunjung menjawab karena masih terpaku pada genggaman erat tangannya. Bagaimana bisa ia menggenggam tanganku, seerat ini? Jika ia tidak mengira aku Sohee, ia takkan melakukan hal ini padaku.

Chu~

Sebuah sentuhan hangat langsung mendarat tepat di dahiku. Ryeowook baru saja menciumku. Ya, mencium dahiku. “Tunggu disini, aku mau panggil dokter dulu jika kau sudah siuman”ucapnya sambil bangkit dari kursinya.

“Oppa, jangan pergi lama-lama. Tetaplah disini”ucapku sambil menggenggam erat pergelangan tangan kanannya yang masih tertinggal didekatku.

“Tenang saja, aku akan segera kembali.” Perlahan-lahan sosoknya hilang dari balik pintu entah kemana. Hanya ada aku, peralatan medis, dan benda lainnya yang ada diruangan ini.

Aren’t you supposed to be
The one to wipe my tears
The on to say that you would never leave

Hasil tes darah! Iya, hasil tes darahku kemana! Batinku sambil berusaha mencari-cari gulungan kertas kumal yang berbau khas rumah sakit itu. Nihil. Di kantong jaketku tak ada. Apa mungkin jatuh dijalan? Atau diambil oleh, Ryeowook? Tanyaku dalam hati. Detik berikutnya seorang dokter dan dua orang perawat masuk dan memeriksa segala macam. Kulihat Ryeowook yang mengekor dibelakang mereka, namun dengan wajah sembab habis menangis.

“Sohee-ah, kenapa kau merahasiakannya dariku?”tanyanya sambil menggenggam tanganku setelah orang-orang medis itu benar benar pergi dari hadapan kami.

“Merahasiakan? Merahasiakan apa?”tanyaku pura-pura tidak tahu.

“Kau mengidap gagal ginjal kan?”ucapnya dengan nada bergetar dan seolah ingin menangis lagi.

Aku hanya tertawa garing dan berkata, “Mwo? Oppa tadi bilang apa?.”

Ryeowook langsung mendekap tubuhku kedalam pelukannya, “Kau jangan pura-pura bodoh, Jung Sohee. Aku tak akan sanggup mengucapkan hal itu untuk kedua kalinya.”

“Mianhae oppa. Tapi berjanjilah padaku agar hal ini hanya menjadi rahasia kita berdua”ucapku sambil menyodorkan kelingkingku padanya. Ia hanya menatap nanar beberapa menit hingga akhirnya menyambut kelingking perjanjian itu.

“Stempel dulu disini. Jika tidak aku takkan percaya pada oppa lagi”ucapku sambil menyodorkan ibu jariku padanya yang masih terdiam.

“Deal. Tapi jangan tutupi apapun tentang penyakitmu padaku, arra?”ucapnya sambil ‘menyetempel’ perjanjian besar itu.

Aku hanya mengangguk dan berkata, “Arra. Oppa, bisa antar aku pulang sekarang? Aku tak mau appa dan eomma pulang duluan dan mengetahui aku habis dari rumah sakit.” Ryeowook menatapku ragu, aku menatapnya dengan puppy eyes. Akhirnya ia mendesah panjang dan mengangguk menuruti permintaanku.

***

Sohee sama sekali tidak menyadari kepulanganku. Ia sudah tenggelam dalam kesibukannya sendiri. Kini ia sedang menatap MacBook yang menampilkan aplikasi editor foto. Sesekali ia menyeringai kecil pada benda itu dan kembali meneruskan pekerjaannya. “Nunna, boleh aku bicara sebentar?”tanyaku memberanikan diri masuk kedalam kamar Sohee yang terkenal galak itu.

“Ne, masuklah. Jangan lupa tutup pintunya. Tadi aku lupa menutupnya”ucap Sohee dengan mata terus menatap kearah laptop.

“Aku tidak mengganggumu kan nunna?”tanyaku sekali lagi karena Sohee sama sekali tidak menganggap ada aku dihadapannya.

BRAKK! Layar MacBook pun ditutup paksa dengan keras dan Sohee pun menatapku dengan tatapan jutek, “Segera bicara atau kau keluar dari sini”ucapnya dengan nada yang benar-benar membuat orang jengah untuk berbicara dengannya.

“Bolehkah kita bertukar kehidupan selama 90 hari? Aku menjadi nunna dan nunna menjadi aku. Tenang saja, setelah waktu itu aku akan hilang dari hadapan nunna. Aku berjanji”ucapku dengan nada datar namun penuh harapan.

Sohee menatapku dengan mata disipitkan dan mulut menganga lebar, “Bertukar kehidupan? 90 hari? Untuk apa Soohee-ah?”tanyanya masih tak percaya.

Aku mendekatkan bibirku ke telinganya, memberi tahu rahasia yang sudah diketahui lebih dulu oleh Ryeowook. Ia menganga lebar. Kaget mungkin. Apa mataku tak salah lihat? Jung Sohee menangis! Iya! Jung Sohee, saudara kembarku yang bertingkah seperti batu itu menangis ketika kuberi tahu bahwa aku mengidap gagal ginjal.

“Jung Soohee”ucapnya sambil merengkuhku kedalam pelukannya. Jujur aku baru kali ini merasakan dipeluk dengan hangat oleh nunna-ku sendiri.

“Ne, waeyo nunna?”

“Jangan pergi dulu…”ucapnya sambil terisak sedih. Aku sendiri baru tahu jika seorang Jung Sohee yang bersikap keras padaku bisa sebaik ini.

“Aku tak akan pergi sekarang nunna. Besok, ketika waktuku sudah habis. Aku baru pergi”jawabku yang mau tak mau mulai menangis juga.

Kami berdua tenggelam dalam kesedihan yang dirasakan satu sama lain. Berusaha memeluk masing-masing seerat mungkin, sebelum aku pergi lebih dulu. “Mulai besok aku tidur di kamarmu, kau tidur dikamarku ya. Pakailah semua barangku sesukamu. Jika ada yang perlu ditanyakan, kau bisa langsung tanya padaku. Arra?”ucap Sohee panjang lebar sambil menatapku dengan mata merah dan sembap.

“Arraseo nunna, arraseo”

Sohee melepas pelukannya dan menyodorkan kelingkingnya sambil berkata, “Berjanjilah pada nunna jika kau tidak akan pergi sebelum hari pernikahan nunna berlangsung.”

“Aku, tidak bisa berjanji tentang hal itu”ucapku sambil mendesah panjang.

“Wae? Waeyo Soohee-ah? Waeyo? Kau masih belum bisa mengikhlaskan Ryeowook untukku?”tanyanya dan tangisnya pun mulai pecah kembali.

Kini aku kian tak tega menatapnya. Memang, ia sudah melakukan hal yang cukup susah dimaafkan padaku. Namun aku tak perduli, “Ah, aniyo. Aku tidak bisa berjanji jika Tuhan sudah menetapkan takdir untukku.” Sohee langsung menangis sejadi-jadinya sambil memeluk erat tubuhku. Ya, pelan tapi pasti. Gagal ginjal ini akan membunuhku diam-diam.

~ To Be Continue ~

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s