[FF] Kiss The Rain Part 4 (Ending)

Judul              : Kiss The Rain
Author            : min Sooyeon ( @firdaa_ningrum )
Type               : Part 4
Genre             : Sad Romance, No Yadong!
PG                  : (13+)
Tokoh             : Kim Ryeowook ( Ryeowook ), Jung So Hee ( Sohee ), Jung Soo Hee ( Soohee )

 

Annyeonghaseyo chingudeul! Ini adalah salah satu Fan Fiction yang murni dari kerja keras otak sendiri. No Bashing, No Copas ya! Eh, satu lagi. Don’t be silent reader ya! Komentar kalian benar-benar kutunggu untuk bahan evaluasi di Fan Fiction selanjutnya. Mianhae kalo ceritanya jelek. Kamsa^^

[ Author Pov ]

Sudah 60 hari berlalu sejak Jung Sohee dan Jung Soohee bertukar kehidupan. Tidak ada satupun dari orang-orang disekitar mereka yang curiga akan pertukaran tempat itu. Hanya satu perbedaan yang ada pada mereka berdua, rambutnya. Tiap Sohee ditanya mengapa rambutnya menjadi pendek, ia selalu bilang bahwa ingin mencoba model rambut baru selain rambut panjang. Lain halnya dengan Soohee, ketika ditanya mengapa rambutnya menjadi panjang, ia selalu bilang bahwa ia menyambung rambutnya hanya untuk mencoba rambut model panjang seperti kembarannya.

“Sudah selesai? Ayo makan malam sebentar. Sudah lama kau tidak makan malam bersamaku bukan?”ajak Ryeowook pada Soohee yang sudah selesai cuci darah.

Sejak dinyatakan gagal ginjal, Soohee memilih untuk melakukan cuci darah menggunakan uang tabungannya. Berhubung perjanjian bertukar tempat dengan Sohee hanya ada 90 hari. Jika hari ini adalah hari ke 50, maka ia tinggal memiliki waktu 40 hari lagi.

Soohee sendiri ingin menolak ajakan itu, namun ia berpikir kapan lagi ia bisa makan malam bersama Ryeowook jika sebentar lagi ia akan pergi?, “Emm… Baiklah. Tapi jangan pulang malam-malam ya oppa. Kasihan Soohee sendiri dirumah.”

“Tumben kau memikirkan Soohee. Biasanya kau selalu memintaku untuk berjalan-jalan hingga malam hari karena sedang malas bertemu Soohee”ucap Ryeowook panjang lebar.

Soohee hanya diam saja dan tertawa garing lalu berkata, “Itu dulu, sekarang ya sekarang Woppa”ucap Soohee berusaha mempraktekkan panggilan khas yang biasa digunakan oleh nunnanya itu.

“Haha, baiklah. Kau mau makan apa malam ini?”tanya Ryeowook sambil terus melajukan mobilnya ditengah keramaian jalanan Seoul yang mulai bergerak lamban.

“Mmm… Aku mau sushi dan udon”ucap Soohee dengan riang.

Kedua makanan itu adalah makanan favoritnya dengan Sohee sejak kecil. Ia masih ingat bahwa dulu ia pernah digetak oleh Sohee gara-gara tidak mau memberika sebuah sushinya. Mengingat hal itu Soohee hanya bisa tertawa pelan karena tidak lama lagi itu akan menjadi memori abadi. “Ne arraseo, kajja!!”ucap Ryeowook sambil mengambil jalan pintas menghindari keramaian Seoul yang kian memadat.

[ Sohee Pov ]

Soohee belum kunjung pulang. Padahal ia berjanji padaku jika ia sampai rumah takkan lebih dari jam 7 malam. Aku takut ia kecapean dan kondisinya menurun lagi. Untung saja appa dan eomma sedang pergi berlibur ke Paris untuk 3 minggu, sudah terhitung seminggu berlalu sih sejak keberangkatan mereka. Dan totalnya sudah 2 kali Soohee tidak berangkat kuliah karena kondisinya menurun.

“Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif atau berada diluar jangkauan. Coba periksa kembali nomor tujuan anda. The numb…”celoteh si operator ketika aku berusaha mengubungi Soohee.

“Cih, memangnya kau pikir suaramu indah, hah?”runtukku sambil meletakkan Galaxy Note milikku kedekat kaki.

Kutatap bayangan wajahku yang terpantul di permukaan air kolam ikan yang menempel di dinding. Hanya air di kolam ini dan air yang digunakan untuk mandi lah yang tidak membeku. Sisanya membeku dan itu sungguh menyebalkan. Aku ingin berenang seperti biasanya, bukan hanya menatap kolam renang yang kosong dan berisi salju.

The waters calm and still
My reflection is there

Tanganku gatal untuk mengetik pesan singkat yang isinya sekedari, “Annyeong, sedang apa oppa?”. Tapi hal itu tak mungkin kulakukan. Bisa-bisa pertukaran kehidupanku dengan Soohee akan ketahuan oleh publik. Imajinasiku mulai melayang lagi ke Ryeowook. Aku membayangkan jika ia sedang menggenggam tanganku

I see you holding me
But then you disappear

“Damn, i miss you badly Kim Ryeowook!”seruku menggunakan Bahasa Inggris karena aku anak Fakultas Sastra Inggris. Sedangkan Soohee lebih memilih masuk Fakultas Matematika. Katanya ia ingin menjadi guru. Ia ingin mematahkan pendapat orang bahwa  semua guru Matematika dan guru Fisika itu menyebalkan.

Sejak masih sekolah, nilai eksak dan non eksak Soohee jauh diatas rata-rata. Minimal peringkat 2 selalu ia terima. Ia pernah mewakili sekolah untuk olimpiade Matematika dan hasilnya ia mendapatkan medali perak. Apalagi semua orang selalu menyayanginya. Sungguh aku merasa iri padanya. Hal itulah yang sering membuatku bertingkah kasar pada Soohee. Aku ingin diperlakukan sama seperti Soohee. Bukannya selalu kena omel dan banding-bandingan karena aku berbeda dengan Soohee.

“Nunna? Kenapa belum tidur?”tanya suara itu dari arah belakang. Reflek aku langsung menoleh dan menatap gadis yang tadi ada didalam pikiranku kini sudah ada didepanku.

“Mana bisa aku tidur jika kau belum pulang!”

Soohee hanya terdiam. Ia tetap berdiri ditempatnya dan tidak melakukan apapun. Raut wajah pucatnya benar-benar datar, matanya mulai berkilauan. “Oh, arra. Jika nunna belum makan tadi aku membelikan sushi”ucapnya sambil meletakkan sebuah bungkusan mika diatas meja. Detik berikutnya, ia langsung berlari menaiki tangga dan diam didalam kamarnya. Apa yang telah kulakukan? Bayangan barusan membuatku kembali bersikap kasar terhadap Soohee.

“Soohee-ah, mianhae. Aku pusing dengan tugas matematika dari dosen botakmu itu”ucapku sambil menggedor-gedor pintu kamarku sendiri yang digunakan oleh Soohee. Namun Soohee sama sekali tidak menjawab dan hanya bunyi ekor cicak bergerak lah yang bisa kudengar.

“Ne, besok kubantu mengerjakannya nunna. Sekarang aku mau tidur dulu, kepalaku pusing dan badanku lemas”ucapnya dengan suara samar-samar karena aku yakin mukanya tertutup oleh bantal.

Aku tak tahu apa yang sedang dilakukan olehnya saat ini. Yang jelas setelah percakapan singkat itu ia hanya bungkam dan menolak bicara padaku. Kulirik jam tangan kecil yang melingkar di pergelangan tanganku sebelah kiri. Oke, sudah hampir 90 menit aku berdiri didepan kamarku sendiri tanpa melakukan apapun. Karena takut terjadi apa-apa pada Soohee, aku berusaha mengetok pintunya.

TOK, TOK, TOK. “Soohee-ah? Kau sudah tidur kah?”

“…….”

“Soohee-ah? Apa kau mendengarku?”

“……..”

TOK, TOK, TOK. “Soohee-ah? Kau masih bernafas kan?”tanyaku semakin panik.

“Nunna, sakit”ucap suara itu pelan sambil cemberut didepan pintu. Ia juga mengelus dahinya yang terlihat merah akibat aku mengira dahinya itu masih pintu. Aku hanya nyengir lebar sambil memamerkan huruf V besar menggunakan tangan kananku.

Aku sempat melongo  ketika melihat kembaranku itu keluar dari kamar dengan dandanan ala mata-mata. Ia menggunakan jaket tebal warna putih, syal dan sarung tangan warna biru langit, lengkap dengan kacamata ber-frame putih. Poninya yang biasa ia sampingkan kini dijepit keatas menggunakan jepit hitam polos. “Waeyo nunna?”ucapnya yang juga menatapku polos.

Aku mengerjap beberapa kali untuk mengembalikan konsentrasiku dan bertanya, “Kau mau kemana Soohee-ah?”

“Aku mau ke rumah sakit. Hari ini aku ada jadwal check up, hanya saja tadi aku tak bilang pada Ryeowook”ucapnya sambil meletakkan telunjuknya didepan bibir.

“Kuantar ya? Jika kau kelelahan nanti kondisimu turun lagi”ucapku sambil berusaha menghalangi jalan Soohee yang sudah mau menuruni tangga.

Ia menatapku sesaat dan berusaha mencari-cari kebenaran didalam mataku. Kemudian ia berkata, “Baiklah. Kutunggu didekat mobilmu ya, nunna.”

[ Author Pov ]

“Kreatinmu naik lagi, nona Jung. Dan ini kali ketiganya aku mewajibkanmu untuk rawat inap. Memangnya kau makan apa saja?”tanya dokter itu dengan nada sengak.

Soohee yang kebetulan di ruangan itu sendirian hanya menunduk dan terus diam. Sohee sendiri ia suruh untuk menunggu diluar. Ia tak mau jika kondisinya semakin buruk diketahui nunna-nya. “Belakangan ini aku makan makanan yang pantang dimakan.” Soohee bisa melihat muka mendidih dari dokter yang menanganinya selama ini.

“Hanya ada 3 pilihan. Pertama, kau rawat inap disini untuk beberapa hari. Kedua, kau harus mencari donor ginjal yang cocok untukmu. Ketiga, kau harus meningkatkat jadwal cuci darahmu menjadi 3 kali seminggu.”

Soohee terdiam dan terlihat berpikir sesuatu. Dari 3 pilihan yang ditawarkan dokter itu tak satupun diantaranya yang disukai oleh Soohee. “Aku menerima pilihan kedua”ucap Soohee dengan mantap. Yah, setidaknya itu bisa mempercepat uangnya habis dan umurnya makin pendek bukan?

***

     Ryeowook sedang menunggui eomma-nya yang sedang periksa ke dokter. Sudah seminggu ia batuk-batuk dan tak kunjung sembuh juga. Akhirnya ia memaksa eomma-nya itu untuk memeriksakan diri ke dokter.

“Eomma yakin tak mau kutemani kedalam?”tanya Ryeowook lagi pada eomma-nya yang tetap ngotot masuk ruang periksa sendirian.

“Ya! Aku belum terlalu tua untuk masuk sendiri ke ruang pemeriksaan dokter! Pergilah dulu!”ucap eomma-nya sambil mengusir anaknya itu sekuat yang ia bisa.

Ryeowook yang mulai putus asa akhirnya menurut dan melangkahkan kakinya menuju mini market untuk membeli air mineral. Ia masih terbayang wajah Sohee saat ia ajak makan sushi tadi sore. Melihat wajahnya yang begitu pucat dan ceria membuatnya merasa bahagia dan sedih. Tiap malam ia berusaha menepis pikiran negatifnya bahwa hidup Sohee tak akan lama lagi.

“Soohee-ah, beri tahu aku apa yang dokter katakan padamu tadi”

Suara itu terdengar begitu khas ditelinga Ryeowook. Ia mundur beberapa langkah untuk kembali memastikan pendengarannya yang samar-samar itu. Matanya menangkap 2 sosok yeoja yang sama tingginya dan sama wajahnya. Hanya saja mereka berdua sama-sama menangis. “Soohee-ah tatap aku! Jawab pertanyaanku tadi!”seru yeoja yang berambut sebahu lebih sedikit pada yeoja berambut panjang yang ia pepetkan ketembok.

“Jung Sohee? Jung Soohee?”tanyaku karena bibirku tak tahan untuk segera bertanya.

“Ryeowook-ah, tunggu, aku bisa menjelaskan semua ini”ucap yeoja berambut pendek itu semakin mendekat kearahku.

“Mianhae, eomma-ku sudah menungguku. Annyeong~”

Kedua saudara itu masih menangis menatap kepergiannya menuju ruang tunggu didepan poli dimana eommanya diperiksa. “Ryeowook-ah, waeyo? Kenapa kau menangis?”tanya eommanya sambil mendekap lengan putra tunggalnya itu.

“Ah, aniyo. Aku tidak menangis kok eomma. Hanya kemasukan serangga kecil”ucapnya berusaha membuat eomma-nya berhenti menatapnya dengan intens.

Nampaknya sandiwara Ryeowook benar-benar berhasil. Eomma-nya berhenti bertanya dan berkata, “Lain kali hati-hati lah. Bisa bahaya.”

[ Soohee Pov ]

Hari ini aku menjalani rutinitasku seperti biasa. Appa dan Eomma sudah selesai berlibur dan untungnya tubuhku mau diajak kerja sama. Sohee juga sudah kembali ke rutinitas biasa. Bukan, bukan rutinitas seperti yang kami lakukan saat tidak bertukar tempat yang kumaksud. Kami tetap bertukar tempat hingga batas waktu perjanjian yang kami lakukan 71 hari yang lalu.

Setelah insiden di rumah sakit itu, Ryeowook menolak untuk menemui kami. Baik aku maupun Sohee, semuanya ia tak mau bertemu. Waktu yang kumiliki tinggal 19 hari lagi. Apakah mungkin dalam waktu sesingkat itu aku masih bisa bernafas? Apakah mungkin aku bisa membuat Ryeowook mau mengerti dan memahami semua ini?

“Annyeong Ryeowook-ah”sapaku sambil menempel mading Bahasa Inggris yang sudah kubuat dengan Ji Hyeon beberapa hari yang lalu.

Ryeowook yang sedang menatap mading dan tidak menyadari keberadaanku, segera melengos dan melangkah pergi menjauh. Ia sama sekali tak mau menatap mataku. Sedetik saja. Ia benar-benar menghindari hal itu terjadi.

All that is left of you
Is a memory
On that only, exists in my dreams

“Kau sedang bertengkar dengan Ryeowook ya, Sohee-ah? Kenapa dia terlihat tak ingin menemuimu?”tanya Ji Hyeon yang mencolek punggungku tiba-tiba.

Aku langsung berbalik dan sialnya air mataku terlanjur turun saat pandanganku bertemu dengannya, “Ah, ani.. Mungkin dia sedang banyak pikiran”ucapku berusaha berbohong.

“Jangan menangis….”ucap Ji Hyeon sambil menghapus air mataku menggunakan sweater rajutnya. Manis bukan? Jika ia Min Jung, ia akan memelukku dan ikut menangis dengan heboh seolah merasakan apa yang kurasakan.

***

TES….

Lagi-lagi air mataku jatuh membasahi buku harianku. Bahkan hangul yang sudah kutulis dengan rapi perlahan-lahan mulai tak terbaca karena tintanya pecah terkena air mataku. Insiden di rumah sakit itu terus menerus membayangi langkahku dan membebani pikiranku. Kubuka buku tabunganku yang tergeletak disamping Galaxy Note bercasing biru langit milikku. Jika perjanjianku kurang 19 hari lagi dan aku harus cuci darah seminggu 3 kali, maka uang tabunganku hanya cukup untuk 3 kali cuci darah lagi. 12 hari sisanya aku tak akan cuci darah lagi.

“Kau mengidap gagal ginjal kan?”ucapnya dengan nada bergetar dan seolah ingin menangis lagi.

“Haha, baiklah. Kau mau makan apa malam ini?”tanya Ryeowook sambil terus melajukan mobilnya ditengah keramaian jalanan Seoul yang mulai bergerak lamban.

“Mianhae, eomma-ku sudah menungguku. Annyeong~”

“Annyeong Ryeowook-ah”sapaku sambil menempel mading Bahasa Inggris yang sudah kubuat dengan Ji Hyeon beberapa hari yang lalu.

Ryeowook yang sedang menatap mading dan tidak menyadari keberadaanku, segera melengos dan melangkah pergi menjauh. Ia sama sekali tak mau menatap mataku. Sedetik saja. Ia benar-benar menghindari hal itu terjadi.

Kalimat-kalimat yang diucapkan Ryeowook satu persatu teriang kembali didalam kepalaku. Mulai dari ia mengira bahwa aku Sohee hingga kejadian tadi pagi saat ia bersikap acuh terhadapku. Kubenamkan wajahku diantara bantal-bantal yang mayoritas berwana biru langit. Melihatnya yang terlihat dikhianati benar-benar membuatku sakit. Tapi bukankah seharusnya ia merasa bersyukur karena bukan kekasihnya yang terkena gagal ginjal? Kenapa ia malah ikut mengacuhkan Sohee? Ini semua kan salahnya.

“Apa yang harus kulakukan, Tuhan. Apa?”tanyaku smabil terus menangis dan memikirkan semua masalah bergantian. Aku berharap, sebelum aku pergi kondisi disini sudah membaik dan berjalan seperti semula…

I don’t know what hurts you
But I can feel it too
And it just hurts so much

[ Sohee Pov ]

Sejak 2 hari yang lalu, Soohee sudah kembali masuk ke rumah sakit. Akhirnya appa dan eomma mengetahui penyakit yang diidap Soohee selama ini. Mereka hanya bisa menangis dan menyalahkan diri masing-masing karena kurang perhatian padaku, terutama Soohee. Kembaranku itu sama sekali tidak mau cuci darah. Ia bilang untuk apa hidup lebih lama lagi jika kondisi orang-orang yang akan ditinggalkan sama sekali tidak ada yang benar?

Aku mengerti betul apa yang diucapkan Soohee, meski itu menggunakan bahasa tingkat tinggi. Ia benar-benar memikirkan semua orang yang ia miliki, bahkan ia menomor terakhirkan dirinya sendiri hanya demi orang lain. Terkadang aku merasa seperti orang bodoh karena pernah bersikap jahat padanya.

“Sohee-ah, aku pulang dulu ya. Jika ada kabar apa-apa tentang Soohee tolong segera kabari aku”ucap Kyuhyun yang langsung membuyarkan lamunanku.

“Ah, ne. Aku akan mengabarimu oppa. Apakah Soohee mau cuci darah lagi setelah kau rayu?”tanyaku dengan mata sembab karena banyak orang berdatangan dan tak satu pun dari mereka yang berhasil merayu Soohee.

“Mianhae, aku tak berhasil membujuknya. Aku permisi dulu.” Aku hanya sanggup menangis meratapi apa yang terjadi pada kembaranku itu. Apa yang dipikirkannya saat ini pun aku belum terlalu paham.

Hingga akhirnya aku berusaha menghubungi Ryeowook. Hanya dialah yang bisa meluluhkan hati Soohee. Sekeras apapun seorang Soohee dan Sohee, mereka hanya akan tunduk pada 1 orang namja yang sama. Yaitu Kim Ryeowook.

TUUT… TUUT… TUUT… “Yeoboseo? Ryeowook-ah, bisakah kita bertemu sebentar? Ne, di kafe biasanya ya. Hmm? Jam 6 sore? Baiklah, aku akan kesana. Gomawo.” Inilah kesempatanku untuk menyadarkan Ryeowook. Demi Soohee, aku akan berjuang. Aku bersumpah Soohee-ah, aku bersumpah!.

***

“Woppa, mianhae”ucapku sambil menggenggam erat tangan Ryeowook yang kini tercenung memikirkan kejadian di rumah sakit beberapa hari yang lalu.

“Ha? Ne, arraseo. Aku bisa mengerti perasaanmu”jawab Ryeowook masih dengan padangan yang terus menatap bunga lotus yang mengapung diatas kolam ikan restoran ini. Ia sudah berhasil kulunakkan setelah 15 menit berbicara dengan nada tinggi padanya.

“Aku tahu jika aku dan Soohee salah karena telah membohongimu, tapi…”

Ia langsung menoleh dan menatap tetap kedalam mataku lalu berkata, “Bisakah kau berhenti membicarakan itu sekali saja?”ucapnya dengan tatapan tajam. Aku hanya bisa menuruti apa yang ia mau saat ini. Hanya untuk kali ini saja, aku mau menurut padanya. Tak lama kemudian, ia segera menyesap habis kopinya dan segera bangkit dari kursi sambil menenteng jaket tebalnya.

“Woppa mau kemana? Duduklah dulu, aku belum selesai bicara”ucapku sambil menggenggam erat pergelangan tangannya, bermaksud untuk mencegahnya pergi.

“Aku mau pergi, ada urusan. Permisi.” Dengan sekali sentakan, tangannku berhasil ia usir dari pergelangan tangannya.

Aku yang merasa mengemban amanah dari Soohee, segera bangkit dan berteriak “Woppa. Soohee sedang sekarat di rumah sakit. Cepatlah kau lihat dirinya, sebelum kau menyesal dikemudian hari.” Aku tak peduli jika orang-orang yang ada disekitar kami menatap bengis karena merasa terganggu.

Ryeowook akhirnya diam dan berbalik badan. “Antarkan aku ketempat Soohee sekarang. Aku ingin menjaganya beberapa hari saja”

“Waktumu hanya 10 hari, Woppa. Usahakan untuk membuat adikku bahagia sebelum ia benar-benar pergi”ucapku sambil menangis. Ia merengkuhku dalam pelukan yang memberiku isyarat aku-minta-maaf-sebesar-besarnya-atas-keegoisanku-selama-ini.

***

            Kulihat Soohee sedang bergumam menyanyikan There Was Nothing. Mengingat judul lagunya sering membuatku miris sendiri. Lagu itu menceritakan kehampaan dan rasa tak ikhlas karena ditinggal pergi oleh orang yang ia sayangi. “Soohee-ah, aku punya tamu untukmu”ucapku sambil mengetuk ranjang Soohee.

Ia menatapku dan berusaha menyembunyikan air matanya, “Siapa lagi nunna? Jika ia kau suruh untuk merayuku cuci darah aku tak mau.”

“Annyeong Soohee-ah, sudah merasa baikan?”tanya Ryeowook yang menyembul dari balik pintu sambil membawa mawar putih.

Soohee tercengang dan diam untuk beberapa saat, “Oppa, benarkah itu dirimu?”tanyanya dengan mata berkaca.

Ryeowook tak menjawab dan bergerak semakin dekat kearah Soohee, “Masa kau sudah lupa padaku?”ucapnya sambil menghapus air mata yang mulai berjatuhan di pipi Soohee. Ia mengisyaratkanku untuk keluar kamar dulu dan aku menurut. Meski ada rasa cemburu yang berdesir di dadaku, sebisa mungkin aku menahannya. Demi saudaraku, demi Jung Soohee yang sudah terlalu banyak mengalah denganku…

[ Author Pov ]

To know that I can’t do a thing
And deep down in my heart

Soohee terus terjaga sambil menatap Ryeowook yang menggenggam tangannya sambil tertidur pulas. Sebenarnya ia mengantuk, namun ia tahu jika ia terpejam sekarang, ia tak mungkin bangun lagi. Untuk selamanya. Oleh karena itu ia berusaha untuk terjaga dan terus menatap namja yang  sedang tertidur pulas. “Sekarang sudah jam 6 pagi, ya. Total 8 jam aku terjaga sejak jam 10 malam. Tuhan, berikan aku kekuatan sedikit lagi hingga matahari terbit nanti”doa Soohee dalam hati. Jemarinya mulai terasa usil untuk membelai kepalanya perlahan. Dengan pasti ia membelai kepala namja itu dengan penuh kasih sayang.

“Tuhan, aku sudah siap jika detak jantungku kau ambil. Aku sudah bisa menerima kenyataan dan mengikhlaskannya”bisik Sooheee pelan-pelan sambil terus membelai kepala Ryeowook.

“Soohee-ah, kenapa tidak tidur? Matamu sudah berair seperti itu”ucap Ryeowook sambil menatap Soohee sedih. Meski ia tahu yang sedang sakit bukanlah Sohee, entah kenapa ia tetap ingin menjaga Soohee.

“Baiklah aku akan tidur sekarang. Oppa jangan mencariku lagi, ya. Sampai jumpa oppa.”

Dengan perasaan ikhlas, akhirnya Soohee menutup matanya perlahan-lahan. Menghilangkan segala beban. Menghilangkan segala amarah, tangis, dan segala rindu yang menggebu pada orang-orang yang belum sempat ia temui.

Somehow I just know
That no matter what
I’ll always love you

Detik berikutnya, mesin pembaca detak jantung melengking panjang dan tak mau berhenti. Jung Soohee pun resmi dinyatakan meninggal pada tanggal 29 Februari 2013.

[ Epilog ]

Sohee yang sudah mengenakan gaun putih panjang lengkap dengan karangan bunga mawar putih berjalan menuju altar. Disana ia bisa melihat orang yang beberapa menit lagi akan menjadi suaminya. Tak lain dan tak bukan ialah Kim Ryeowook. Sebentar lagi marganya pun akan berubah menjadi Kim, bukan lagi Jung. Ia melihat kesebelah kanan, disana ada ibunya yang sedang menatapnya haru. Disamping ibunya, ia juga melihat calon mertuanya yang menatapnya tak kalah haru. Hatinya kembali dilusupi rasa sedih dan bersalah. Pikirannya kembali teringat pada Jung Soohee yang telah pergi 30 hari yang lalu.

Namun sebisa mungkin ia tetap fokus hingga benar-benar sampai di altar gereja. Ryeowook menggenggam tangan kanan Sohee yang tak menggenggam karangan bunga. Ia menatap dirinya dengan tatapan bahagia. Namun masih ia lihat tatapan kesedihan mendalam tentang kepergian Soohee. Dihadapan sang pastur dan puluhan undangan, mereka saling menatap dan mengucapkan janji suci.

“Aku menerima Kim Ryeowook sebagai suamiku.”

“Aku menerima Jung Sohee sebagai istriku.”

Sohee terus menatap Ryeowook dan berkata, “Kami akan selamanya mencintai”, “dan menghormati satu sama lain”sambung Ryeowook akan ucapan Sohee barusan.

“Hingga hari dimana hidup kami berakhir”ucap Sohee yang mulai merasa ada Soohee diantara dirinya dan Ryeowook. “Kami akan bersama selamanya”sambung Ryeowook yang juga merasakan kehadiran Soohee.

“Aku bersumpah”ucap mereka bersamaan.

Seketika para undangan langsung bertepuk tangan dengan meriah. Mereka saling memasangkan cincin dijari manis masing-masing. Lalu menit berikutnya, Ryeowook mengecup hangat dahi Sohee yang kini sudah menitikkan air mata haru dan sedih. Sementara Soohee yang menyaksikan itu hanya tersenyum dan perlahan-lahan hilang menjadi butiran debu yang bersinar ketika terkena cahaya matahari.

***

“Kadonya benar-benar menggunung dan menghabiskan seperempat kamar ini sendiri”ucap Ryeowook sambil melihat gundukan kado pernikahannya dengan Sohee yang tak terhitung jumlahnya karena ia terlalu malas untuk menghitungnya.

“Iya, dan kertas kadonya nyaris sama semua”balas Sohee yang kini berjongkok mengaduk-aduk gundukan kado.

“Kau aduklah kado-kado itu sepuasmu. Aku mau mandi dulu”ucapnya sambil mengelus rambut Sohee sebentar sebelum ia benar-benar masuk untuk mandi.

Pandangan Sohee berhenti pada sebuah buket berisikan bunga Lili Putih favoritnya. Tangannya langsung meraba bunga itu dengan lembut dan menciuminya sesekali. Tiba-tiba, ada sebuah amplop biru langit yang terjatuh dari buket bunga. Mirip seperti milik Soohee. Bahkan baunya pun sama, batin Sohee dalam hati. Ia melongok sebentar ke pintu kamar mandi, mana tahu Ryeowook sudah selesai mandi dan memaksanya untuk berbagi mengintip isi kertas tersebut.

 

Heaven, 1st of April 2013

          Annyeong nunna-ku tersayang, Jung Sohee^^ Kulihat kau begitu bahagia akhirnya bisa bersatu dengan Ryeowook-ah^^ Nunna, maafkan aku karena tidak bisa datang ke hari pernikahanmu. Tuhan lebih dulu mengambil nyawaku ketimbang mengizinkanku melihatmu dan Ryeowook-ah berdiri di altar melangsungkan janji suci. Tolong jaga Ryeowook-ah baik-baik ya, nunna^^ Aku akan menghantui nunna jika nunna tidak mengurusnya dengan baik, kkk~ Semoga hanya Tuhan dan kematian lah yang dapat memisahkan kalian berdua, amin^^

Nb : kutunggu Ryeohee kecilnya! aku mengawasi kalian dari sini^^

JSH

 

Mata Sohee langsung menjelajah keseluruh sudut ruangan. Mana kala ia bisa melihat arwah saudara kembarnya yang telah pergi itu. Ryeowook sendiri yang baru saja keluar kamar mandi langsung bingung melihat tingkah aneh istrinya itu. “Mencari apa chagiya?”tanya Ryeowook yang mulai jahil memanggil istrinya itu dengan sebutan sayang.

“Isshh, kau ini baru selesai mandi saja sudah seperti itu”seru Sohee sambil menghampiri Ryeowook yang masih mengusap-usap rambutnya yang basah.

“Waeyo? Memangnya aku salah?”ucap Ryeowook sambil bergelayut manja dan mengalungkan keduanya lengannya ke leher Sohee.

“Kau berat sekali”ucapnya sambil berusaha mengusir tangan nampyeon-nya yang mulai bertingah seperti anak-anak itu.

“Kertas apa itu? Boleh kubac..”sebelum Ryeowook selesai mengucapkannya, Sohee sudah lebih dulu menarik dan menyembunyikan surat itu kedalam saku piyamanya.

“Tak boleh. Surat ini ditujukan padaku kok, bukan pada oppa”ucap Sohee sambil mengusir tangan Ryeowook yang kian lama kian membebani lehernya.

Ryeowook hanya manyun dan naik keatas tempat tidur, lalu diam dibalik selimut yang lama-lama mendengkur juga. Dasar namja aneh, batin Sohee dalam hati. Ia berjalan menuju jendela dan menyibak kordennya. Terima kasih Soohee-ah. Maafkan nunna-mu yang selama ini bersikap kasar dan egois padamu. Nunna berjanji akan melaksanakan permintaanmu sebaik mungkin! Batin Sohee sambil tersenyum dan menutup korden kembali.***

~END~

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s